Jangan Maklum Dengan Pikun, Kenali Gejala Alzheimer

No comments

Jangan Maklum Dengan Pikun, Kenali Gejala Alzheimer


 

Assalamualaykum,

"Duh..sudah pikun nih, kemarin taruh kunci dimana sih?". Seharian ngedumel masalah kunci laci yang tak kunjung ketemu, berasa sudah tua deh nih kalau suka pikun dan pelupa seperti ini!

Apa mungkin pikunnya aku ini karena faktor U (umur), sebab menjelang kepala 4 nih. Terkadang aku suka bertanya sendiri “Apakah bahaya suka pikun atau pelupa seperti ini?”. Mengingat usia aku juga belum terlalu tua banget.

Jadi ceritanya adalah, di hari Minggu pagi kemarin, terjadi sebuah kehebohan kecil di rumah aku... Heboh karena aku mencari kunci laci meja rias aku. Sampai semua orang yang ada di rumah (tanpa terkecuali si bungsu), ikut mencari kunci laci meja rias aku. Baru hari Sabtu pagi kemarinnya, aku habis selesai beres-beres meja rias aku, sambil mensortir mana skincare dan makeup aku yang sudah mau kadaluarsa. Lalu barang-barang itu semua, aku jadikan satu di dalam kotak, dan rencananya mau aku buang hari Minggu pagi. Setelah selesai aku taruh di kotak, kotak tersebut aku masukin ke laci meja dan lacinya aku kunci.

Biasanya kunci-kunci aku taruh di dalam gelas kecil yang isinya khusus untuk menyimpan kunci-kunci dan gelas ini aku taruh di atas meja rias aku. Tapi Minggu pagi ketika aku mau ambil kunci tersebut, kuncinya tidak ada di dalam gelas itu.

Jadi keinget deh materi webinar yang aku ikuti via zoom di hari Minggu pagi. Aku ikut webinar Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia – Ajak Dokter dan Masyarakat untuk Kenali Gejala dan Segera Obati Pikun.

Dalam rangka memperingati Alzheimer Awareness Month pada bulan September ini, PT Eisai Indonesia (PTEI) dan PERDOSSI mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang mana merupakan bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun.

Buat aku pribadi, webinar ini penting banget untuk aku yang suka lupa. Seperti pertanyaan aku di atas, “Apakah bahaya suka pikun atau pelupa seperti ini?”. Jadi aku akan cari tahu jawabannya di webinar ini.

  

Pelupa dan Pikun itu Berbeda

Ternyata nih, Pelupa dan Pikun itu berbeda lho. Bedanya apa ya?

PELUPA

  • Pelupa karena gangguan pemusatan perhatian sementara
  • Lupa nama orang yang jarang ketemu
  • Mengeluh sering lupa, tapi dapat memberikan contoh hal yang dilupakan
  • Sesekali kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara
  • Ingat hal penting, pembicaraan terganggu
  • Kehidupan Sosial seperti biasa
  • Kadang kesulitan menentukan arah, tapi tidak sampai tersesat

PIKUN

  • Pikun karena fungsi kognitif menurun disertai gangguan aktivitas keseharian
  • Lupa nama orang yang sering ketemu
  • Mengeluh lupa hanya bila ditanya, dan tidak bisa memberikan contoh apa yang dilupakan
  • Sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara
  • Sering lupa hal penting, kemampuan bicara sangat terganggu
  • Kehilangan minat untuk aktifitas social
  • Tersesat, bahkan di lingkungan sekitar

Jadi istilah yang benar untuk aku itu adalah PELUPA bukan PIKUN. Pikun adalah ketika seseorang butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya. Pikun sendiri bukanlah suatu hal yang normal ketika seseorang dalam proses penuaan.

Perlu di ingat adalah Pikun itu dapat berisiko menjadi penyakit dan salah satunya adalah bisa dipastikan terkena Demensia.




Apa itu Demensia Alzheimer?

Demensia dapat diartikan sebagai kumpulan gejala yang mengganggu fungsi kognitif otak untuk berkomunikasi serta melakukan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Alzheimer adalah suatu penyakit dan merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami gangguan gejala dementia.

Diperkirakan ada sekitar satu juta orang penderita Demensia Alzheimer di Indonesia pada tahun 2013. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastic menjadi dua kali lipat pada tahun 2030 dan menjadi empat kali lipat pada tahun 2050.

Dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan 

“Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lanjut usia (lansia). Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Jumlah lansia yang terus meningkat tersebut dapat menjadi asset bangsa bila tetap sehat dan produktif. Namun lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi social dan ekonomi bangsa. Demensia Alzheimer merupakan salah satu ancaman bagi lansia di Indonesia saat ini.”

 

Penyakit Demensia Alzheimer sendiri memiliki beberapa factor resiko yaitu:

  • Yang bisa dimodifikasi seperti penyakit vascular: hipertensi, metabolic, diabetes, dyslipidemia, pasca cidera kepala, pendidikan rendah, depresi;
  • Yang tidak dimodifikasi yaitu usia lanjut dan genetic yaitu memiliki keluarga yang mengalami Demensia Alzheimer.

 

Dan pada webinar ini juga, dr Iskandar Linardi selaku President Director dari PT Eisai Indonesia (PTEI) mengatakan bahwa, 

“PT Eisai Indonesia (PTEI) memiliki filosofi human health care (hhc) dan telah berkontribusi dalam kesehatan masyarakat Indonesia selama 50 tahun. PT Eisai Indonesia (PTEI) berkomitmen memberikan edukasi mengenai penyakit Demensia Alzheimer, terutama karena penyakit ini dapat dideteksi sejak awal sehingga dapat dilakukan penanganan secepat mungkin. Dalam rangka merayakan 50 tahun PT Eisai Indonesia (PTEI), kami bangga bisa mendukung PERDOSSI melaksanakan program kampanye edukatif #ObatiPikun dan mengembangkan Aplikasi E-Memory Screening (EMS).”


Wah menurut aku ini keren banget sih, karena tanpa perlu harus langsung cek ke dokter spesialis, kita bisa secara mandiri mendeteksi dini terlebih dahulu tentang kondisi kita, apakah kita mengalami gejala Demensia Alzheimer ini.

Apalagi aplikasi ini bisa kita download di Appstore maupun Playstore. Jadi mudah dan simple banget, dan tidak perlu menduga-duga apakah kita Demensia Alzheimer atau tidak.



Di sesi berikutnya pada webinar ini, para peserta juga diberitahu bahwa saat ini ada sebuah aplikasi yang bisa langsung di download dari handphone untuk mendeteksi Demensia di usia dini. Pengumuman tersebut di beritahukan oleh  Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) yang memperkenalkan aplikasi ini secara detail.

Aplikasi E-MS resmi diluncurkan pada tanggal 20 September 2020. Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait Demensia Alzheimer yang mungkin dialami oleh pengguna aplikasi.

Setelah itu, Aplikasi E-MS akan memberikan skor dan apabila skor tersebut menunjukkan kondisi abnormal, maka aplikasi ini akan menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada dokter di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS termasuk informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang Demensia Alzheimer, serta nomor call center RS yang dapat dihubungi.

Selain deteksi dini, aplikasi ini juga menyediakan ragam indormasi terpercaya dan akurat mengenai Demensia Alzheimer dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Aplikasi ini juga menyediakan tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD) secara efektif dan efisien.


Jadi bagi teman-teman yang suka lupa, yuk coba cek dulu apakah lupanya ini sudah dalam kategori pikun atau tidak dan untuk pastinya teman-teman bisa juga download aplikasinya di playstore dan appstore dari handphone. Kenali gejala Alzheimer sedini mungkin.

Semoga bermanfaat and see you on my next Blogpost 💖💖



Woman Creative Partner

 


No comments