Featured Slider

Promo Vacuum Cleaner Praktis untuk Rumah Bersih Maksimal

Tidak ada komentar

 

Promo Vacuum Cleaner Praktis untuk Rumah Bersih Maksimal

Siapa disini yang suka merasa waktu 24 jam sehari itu terasa kurang? Sepertinya aku yang akan pertama kali tunjuk tangan 😍. Sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus pebisnis, kegiatan aku sudah dimulai dari sebelum subuh sampai akhir tengah malam.

Pagi hari harus mengurus keluarga, memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi, lalu berlanjut dengan berbagai aktivitas bisnis yang cukup padat. Di tengah kesibukan tersebut, ada satu hal yang selalu menjadi perhatian aku, yaitu: kebersihan rumah.

Rumah yang bersih bukan hanya membuat suasana nyaman, tetapi juga membuat aku lebih fokus bekerja dan keluarga pun lebih sehat. Namun jujur saja, menjaga rumah tetap bersih setiap hari bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika aktivitas sedang padat dan aku harus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Karena itulah aku mulai mencari solusi praktis yang bisa membantu pekerjaan rumah tangga menjadi lebih ringan. Hingga akhirnya aku menemukan Robot Vacuum Cleaner Midea V12, yang menurut aku layak disebut sebagai robot vacum cleaner terbaik untuk membantu menjaga kebersihan rumah secara maksimal.

Kesibukan yang Membutuhkan Robot Vacuum Cleaner

Sebelum pakai Robot Vacuum Cleaner, dulu aku harus meluangkan waktu khusus untuk menyapu dan mengepel rumah setiap hari. Padahal sering kali jadwal antar anak sekolah, meeting, hingga mengurus operasional bisnis membuat aku tidak sempat membersihkan rumah secara menyeluruh.

Belum lagi jika ada tamu yang datang mendadak. Kebayang grasak grusuknya dan aku harus buru0buru memastikan lantai rumah bersih dan bebas debu. Situasi seperti ini cukup sering membuat aku merasa kewalahan.

Akhirnya aku memutuskan mencoba menggunakan robot vacuum cleaner agar pekerjaan rumah menjadi lebih efisien. Setelah membandingkan berbagai produk, pilihan ku jatuh pada Robot Vacuum Cleaner Midea V12.

Mengapa Memilih Robot Vacuum Cleaner Midea V12?

Robot Vacuum Cleaner Midea V12.

Ada banyak alasan mengapa aku jatuh hati pada produk ini. Selain desainnya modern dan elegan, fitur-fitur yang ditawarkan benar-benar membantu aktivitas sehari-hari.

1. Schedule Cleaning, Rumah Bersih Tanpa Harus Diingatkan

Salah satu fitur favorit ku adalah Schedule Cleaning. Dengan fitur ini, kita tuh bisa lho mengatur jadwal pembersihan sesuai kebutuhan.

Misalnya saat pagi hari ketika sedang menyiapkan sarapan atau menghadiri meeting online, Midea V12 sudah mulai bekerja membersihkan rumah secara otomatis. Rasanya menyenangkan ketika selesai beraktivitas dan mendapati lantai rumah sudah bersih tanpa harus mengeluarkan tenaga tambahan.

2. Memiliki 4 Mode Pembersihan yang Fleksibel

Setiap area rumah tentu memiliki kebutuhan pembersihan yang berbeda. Untungnya, Midea V12 hadir dengan 4 Mode Cleaning yang dapat disesuaikan dengan kondisi ruangan. 

Aku bisa memilih mode yang sesuai untuk membersihkan ruang keluarga, kamar tidur, hingga area yang lebih sering digunakan oleh anak-anak. Fleksibilitas ini membuat proses pembersihan menjadi lebih efektif dan optimal.

3. Voice Commands yang Praktis

Sebagai seseorang yang sering melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan, fitur Voice Command sangat membantu.

Aku cukup memberikan perintah suara tanpa harus menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan. Robot vacuum cleaner langsung menjalankan tugasnya sesuai instruksi. Fitur ini terasa sangat praktis terutama saat tangan sedang sibuk atau ketika aku sedang bekerja dari rumah.

4. Child Lock untuk Keamanan Tambahan

Bagi keluarga yang memiliki anak kecil ataupun ada anabul di rumah. fitur Child Lock menjadi nilai tambah yang sangat penting.

Anak-anak sering kali penasaran dengan berbagai perangkat elektronik di rumah. Dengan adanya Child Lock, aku merasa lebih tenang karena pengaturan perangkat tidak mudah berubah akibat tombol yang tidak sengaja ditekan.

Fitur Favorit: 55° C Hot Air Drying

Salah satu fitur yang benar-benar membuat aku terkesan adalah 55° C Hot Air Drying

Setelah proses pembersihan selesai, sistem akan membantu mengeringkan bagian mop menggunakan udara panas bersuhu 55 derajat celcius. Hal ini membantu menjaga kebersihan mop sekaligus mengurangi kelembapan yang dapat menimbulkan bau tidak sedap.

Sebagai ibu rumah tangga, tentunya aku sangat menghargai fitur ini karena membuat proses perawatan perangkat menjadi jauh lebih praktis dan higienis.

Rumah Bersih Maksimal Dengan Robot Vacuum Cleaner Terbaik

Robot Vacuum Cleaner Midea V12.

Setelah beberapa waktu menggunakan Midea V12, aku merasakan perubahan yang cukup signifikan. Lantai rumah terasa lebih bersih setiap hari, debu berkurang dan yang pasti aku jadi memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada keluarga maupun bisnis yang sedang dijalankan.

Aku juga tidak perlu lagi merasa khawatir ketika ada tamu datang mendadak karena rumah selalu dalam kondisi rapi dan bersih.

Bagi ku, investasi pada perangkat rumah tangga yang dapat menghemat waktu adalah keputusan yang sangat tepat. Terlebih jika perangkat tersebut mampu bekerja secara otomatis dan memberikan hasil yang memuaskan.

Promo Vacuum Cleaner yang Sayang Dilewatkan

Robot Vacuum Cleaner Midea V12.

Kabar baiknya, saat ini sedang berlangsung Super Midea Season dengan diskon hingga 20% untuk berbagai produk pilihan, termasuk Robot Vacuum Cleaner Midea V12.

Bagi teman-teman semua yang sedang mencari promo vacuum cleaner untuk membantu menjaga kebersihan rumah tanpa repot, ini adalah kesempatan yang sangat menarik.

Dengan berbagai fitur unggulan seperti 55° C Hot Air Drying, 4 Mode Cleaning, Schedule Cleaning, Voice Commands dan Child LockMidea V12 mampu menjadi solusi modern untuk keluarga yang menginginkan rumah bersih maksimal setiap hari.

Penutup

Menjadi ibu rumah tangga sekaligus pebisnis mengajarkan ku bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga. Karena itu, aku selalu mencari cara untuk bekerja lebih cerdas tanpa mengorbankan kenyamana keluarga.

Menggunakan Robot Vacuum Cleaner Midea V12 menjadi salah satu keputusan terbaik yang aku ambil untuk membantu menjaga kebersihan rumah. Kini aku bisa lebih fokus menjalankan aktivitas harian sementara urusan lantai bersih dapat ditangani secara otomats.

Jika teman-teman sedang mencari robot vacuum cleaner terbaik dan ingin memanfaatkan promo vacuum cleaner yang menguntungkan, jangan lewatkan promo Super Midea Season dengan diskon hingga 20%.

Karena rumah yang bersih bukan hanya membuat nyaman, tetapi juga memberikan ketenanganbagi seluruh anggota keluarga.




From Struggle to Strength: Belajar Mindset Entrepreneur dari Nilam Sari

Tidak ada komentar

 

From Struggle to Strength: Belajar Mindset Entrepreneur dari Nilam Sari

Assalamualaykum,

Ditengah jadwal aku yang lagi padat di bulan Mei ini, aku menyempatkan daftar untuk ikut webinar yang diadakan oleh ISB tanggal 21 Mei 2026 kemarin dan ini menjadi salah satu hari yang honestly cukup membekas di hari aku. Sebagai seorang ibu yang punya bisnis, kadang aku juga merasa lelah, overthinking dan mempertanyakan perjalanan bisnis yang sedang aku bangun. 

Sometimes aku merasa butuh recharge energi dan insight baru supaya tetap semangat menjalani semuanya. Alhamdulillah hari itu aku berkesempatan mengikuti webinar dari komunitas ISB bersama sosok luar biasa: Nilam Sari, yang dipandu oleh Teh Ani Berta selaku founder Indonesian Social Blogpreneur Community (ISB).

From Struggle to Strength: Belajar Mindset Entrepreneur dari Nilam Sari

Webinar ini bukan sekadar sharing bisnis biasa. Tapi lebih seperti reminder bahwa every successful woman has survived battles that people never see.

Berani Mengambil Langkah Pertama

Salah satu poin yang paling relate buat aku adalah saat Mba Nilam Mengatakan bahwa banyak orang sebenarnya punya mimpi besar tapi takut memulai.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan:
"Bagaimana kalau gagal?"
"Bagaimana kalau rugi?"
"Bagaimana mulainya padahal usia sudah tidak muda lagi?"

Padahal semua bisnis besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Mba Nilam bercerita pengalaman beliau saat merintis bisnis Kebab Turki Baba Rafi bersama mantan suaminya di Surabaya pada tahun 2003 hanya dengan satu gerobak sederhana dan modal pinjaman. Siapa sangka, dari satu gerobak kecil itu akhirnya berkembang menjadi salah satu franchise kebab terbesar di dunia dengan lebih dari 1.300 outlet di 9 negara.

SubhanAllah... hearing that story made me realize bahwa keberanian mengambil langkah pertama memang sangat penting. Karena sometimes Allah hanya ingin melihat apakah kita mau bergerak dulu atau tidak.

Membangun Mindset Entrepreneur

Sebagai perempuan yang juga menjalankan beberapa bisnis, aku sangat tersentuh ketika Mba Nilam menjelaskan bahwa entrepreneur mindset bukan cuma soal mencari profit. But it's about resilience. Tentang bagaimana kita tetap berdiri meskipun berkali-kali jatuh.

Dan bagian paling emotional adalah ketika Mba Nilam menceritakan fase hidupnya yang mungkin tidak semua orang kuat melewatinya. 

Beliau pernah memiliki hutang 14 milyar rupiah di usia yang masih sangat muda. Belum lagi konflik rumah tangga yang berujung perceraian, hingga sengketa bisnis yang tentunya sangat menguras mental dan emosional.

Aku benar-benar terenyuh mendengarnya.

Karena dari luar, orang hanya melihat kesuksesan Baba Rafi. Tapi di balik itu ternyata ada air mata, tekanan, rasa sakit dan perjuangan panjang yang luar biasa besar dan satu kalimat beliau yang paling aku ingat adalah:

"Pelangi selalu ada di setiap akhir masalah. Kita hanya perlu percaya dan terus berjalan"

That sentence hits differently.

Womanpreneur yang Menginspirasi

Menurut aku pribadi, Nilam Sari adalah representasi nyata dari strong womanpreneur. Baliau bukan hanya membesarkan brand kuliner besar, tapi juga mampu bangkit kembali setelah menghadapi badai kehidupan yang sangat berat, 

Di tahun 2017, setelah menghadapi perceraian dan berbagai tantangan bisnis, beliau harus membangun ulang sistem operasional perusahaan di tengah kondisi hidup yang tidak mudah.

Can you imagine how hard that was?

But instead of giving up, she chose to rise stronger.

Sekarang Mba Nilam aktif sebagai CEO PT Nava Sari Kreasi dan mengembangkan platform franchise aggregator BukaOutlet.com. Selain itu beliau juga aktif menjadi mentor bisnis dan konsultan untuk banyak UMKM di Indonesia.

Dan menurut aku, ini adalah definisi sukses yang sebenarnya. Bukan tentang tidak pernah jatuh, tapi tentang bagaimana kita terus bangkit.

Konsistensi adalah Kunci

Sebagai blogger dan entrepreneur, aku juga merasa diingatkan kembali mengenai pentingnya konsistensi. Kadang kita terlalu fokus ingin hasil cepat sampai lupa bahwa bisnis besar dibangun dari proses yang panjang. 

Mba Nilam mengingatkan bahwa konsistensi kecil yang dilakukan terus menerus jauh lebih powerful dibanding semangat besar yang hanya muncul sesaat and honestly.... I needed that reminder.

Karena di tengah rutinitas bisnis travel, modest fashion dan blogging serta berbagai aktivitas lainnya, kadang rasa lelah itu pasti datang. Tapi webinar ini membuat aku sadar bahwa setiap perjalanan pasti punya ujian masing-masing dan tugas kita hanyalah tetap melangkah sambil percaya Allah selalu punya rencana terbaik.

Closing Thoughts

Webinar ini bukan hanya membawa ilmu bisnis, tapi juga membawa energi baru sebagai seorang perempuan yang sedang terus belajar bertumbuh. 

From Struggle to Strength: Belajar Mindset Entrepreneur dari Nilam Sari

Terima kasih untuk Indonesian Social Blogpreneur Community (ISB) dan Teh ANi Berta yang selalu menghadirkan ruang belajar penuh inspirasi untuk para perempuan Indonesia.

Dan terima kasih juga untuk Mba Nilam Sari yang sudah berbagi cerita hidup dengan sangat jujur dan penuh kekuatan. Sometimes, the most inspiring stories are not about people who never fail. But about people who keep standing after every storm. And I think, that is exactly who Mba Nilam Sari is.




Cerita di Balik Tumbler Kesayangan. Ada Harga, Ada Kualitas

Tidak ada komentar


Cerita di Balik Tumbler Kesayangan. Ada Harga, Ada Kualitas

Sebagai seorang ibu ibu pebisnis yang daily activity-nya cukup padat, mulai dari meeting, urus jahitan, cek tukang jahit sampai creating content untuk blog dan social media, ada satu benda yang hampir selalu ada di tangan aku, yaitu tumbler.

Lucunya, aku bukan tipe orang yang koleksi tumbler karena bentuknya lucu atau limited edition semata. Aku lebih suka beli tumbler yang menurut aku benar-benar worth it. Yang kualitasnya bagus, nyaman dibawa kemana-mana, tidak gampang tumpah dan yang paling penting...awet!

Because honestly, aku tuh tipe orang yang bawa minuman sendiri kemana-mana. Kadang infused water, kopi, matcha atau sekadar air putih dingin. Jadi tumbler itu bukan cuma aksesoris lifestyle, tapi sudah jadi bagian dari daily routine aku.

Aku percaya banget kalau "ada harga, ada kualitas."

Dari dulu aku lebih pilih beli satu tumbler mahal tapi tahan bertahun-tahun dibanding beli banyak yang murah tapi cepat rusak atau bocor dan surprisingly, hampir semua tumbler favorit aku awet sampai lebih dari dua tahun.

Bahkan ada beberapa yang masih kelihatan bagus banget walau sudah sering ikut traveling, meeting, road trip, umroh sampai dibawa masuk ke cabin pesawat.

Dan ya...sebenarnya aku sudah beberapa kali beli tumbler baru, padahal yang lama masih ada. Bukan karena rusak, tapi karena sering "diambil alih" sama anak-anak hahaha.

Mereka tuh suka banget pakai tumbler aku karena katanya lebih enak dipakai ke sekolah atau kampus. Pernah suatu hari tumbler mahal kesayangan aku hilang entah kemana ketika dipakai oleh anak aku, besoknya langsung aku bilang: "Udah ya, jangan pakai tumbler ibu yang mahal lagi!"

Walaupun kenyataannya, tetap aja kadang mereka diam-diam bawa tumbler aku lagi 😉.

Cerita di Balik Tumbler Kesayangan. Ada Harga, Ada Kualitas


Kalau ngomongin tumbler favorit, honestly aku dulu cukup suka koleksi tumbler dari Starbucks. Untuk kualitas memang sebagus itu dan seawet itu. Tutupnya aman, desainnya clean dan nyaman dibawa kemana-mana.

Tapi untuk sekarang aku memang belum beli lagi edisi terbaru mereka karena campaign boikot yang masih berjalan. Walaupun jujur saja, dari segi kualitas produk, tumbler mereka memang salah satu yang paling awet menurut aku. Maybe someday aku akan beli lagi tumblernya.

Selain itu aku juga suka koleksi tumbler dari brand kopi lokal seperti Fore Coffee. Mereka sempat keluarin merchandise tumbler dengan beberapa pilihan warna dalam satu model yang sama, dan aku punya dua koleksi yaitu warna cream dan hijau.

05.16.2026 Cerita di Balik Tumbler Kesayangan. Ada Harga, Ada Kualitas


Simple, elegant dan surprisingly nyaman banget dipakai daily. Mau dibawa meeting, kerja di cafe atau traveling juga tetap practical.

Nah kalau yang paling mahal, definitely tumbler Stanley. Waktu itu aku beli harganya masih diatas satu juta rupiah dan setelah bayar langsung mikir: "Ya Allah, ini uang segini sebenarnya bisa dapat beberapa skincare ya..." hahaha.

Tapi ternyata memang benar, harga tidak bisa bohong. Materialnya kokoh, dinginnya tahan lama banget dan benar-benar terasa premium saat dipakai. Sampai sekarang masih jadi salah satu tumbler terbaik yang aku punya.

Buat aku, tumbler bukan sekadar tempat minum. Ada banyak memories kecil di dalamnya. Menemani perjalanan bisnis, long trip, morning school run, bahkan hectic days yang kadang melelahkan. 

Mungkin ini jugalah alasan mengapa aku selalu sayang sama tumbler-tumbler aku. Karena benda kecil seperti ini ternyata bisa jadi teman sederhana yang nemenin perjalanan hidup sehari-hari.



Relearning, Rebuilding and Reinventing as a Muslimahpreneur

Tidak ada komentar


Relearning, Rebuilding and Reinventing as a Muslimahpreneur


2026 feels different. There's a quiet urgency in my heart, but also a beautiful sense of clarity. I realize one thing: growth is no longer optional, it's necessary. Lately, I've been deeply immersing myself again into two important areas: fashion and digital marketing. Not from zero, of course, but going deeper, sharper and more intentional.

Kenapa dua hal ini? Karena I know, these are the pillars that will elevate my business income. Dunia bisnis sekarang berubah cepat sekali. What worked five years ago, doesn't always work today. Algoritma berubah, tren berubah, bahkan cara orang membeli pun berubah. So I told myself: "You need to relearn. You need to stay relevant."

Back to Learning Mode, Again

Jujur, kembali belajar di usia sekarang itu rasanya campur aduk. Excited, yes. Tapi juga penuh tantangan. 
I Joined several bootcamps, mostly focused on digital marketing strategy, content creation, and branding. Some sessions feel like opening a new window in my brain. Thins like:
  • Understanding audience behavior deeper
  • Learning storytelling in content
  • Building personal branding yang lebih authentic
  • Optimizing conversion, not just visibility
And surprisingly, I enjoy it. There's something empowering about sitting with new knowledge again. Rasanya seperti: "menghidupkan kembali" bagian otak yang mungkin sempat tertidur karena rutinitas.

Fashion: Not Just Style, But Strategy

Di sisi lain, aku juga kembali memperdalam dunia modest fashion. Because fashion is not just about looking good, it's about identity, positioning and value. Aku belajar lagi tentang:
  • Trend forecasting
  • Fabric selection and quality control
  • Market positioning untuk muslimah
  • Branding yang punya cerita
  • Building a new community for my brand
And I realized, bisnis fashion itu bukan sekedar jualan baju. It's about creating experience. Especially as a muslimahpreneur, I want my brand to feel warm, elegant and empowering. Bukan hanya "cantik diluar", tapi juga meaningful di dalam.

Keeping My Mind Alive

Ada satu alasan lain yang mungkin lebih personal. I don't want my brain to become dull. Aku ingin tetap berpikir, tetap berkembang, tetap kreatif. Karena ketika kita berhenti belajar, pelan-pelan kit ajuga berhenti bertumbuh. 

Learning keeps me alive. It challenge me. It pushes me. It reminds me that I still have so much potential, even in this phase of life.

When the House Gets Quieter

Ada fase yang mulai aku rasakan sekarang. Anak-anak sudah mulai besar. Mereka punya aktivitas masing-masing. Dunia mereka mulai luas dan perlahan aku tidak lagi menjadi pusatnya. huhuhu...mewek ngga sih, tapi ya itulah fase hidup kita.
And honestly, sometimes it feels...quiet!

But instead of feeling empty, I choose to fill that space with growth. Dengan belajar, dengan membangun bisnis, dengan memperluas networking, aku mengubah "kesepian" itu menjadi sesuatu yang produktif. Because loneliness can either break you or build you. I choose to let it build me.

Expanding My Network

Salah satu hal yang palnng aku syukuri dari proses belajar ini adalah networking. Meeting new people. Hearing new perspectives. Connecting with line-minded women who are also building their dreams. 
It reminds me: I'm not alone in this journey and sometimes, one conversation can open doors you never imagines before. 

Preparing for te future

Kalau boleh jujur, ada satu hal yang cukup kuat mendorong aku untuk terus belajar dan berkembanng: Aku tidak ingin merepotkan anak-anak di masa depan
I want to be financially independent. Bahkan lebih dari itu, aku ingin bisa membantu mereka kalau suatu saat mereka menghadapi kesulitan ekonomi.
Because I know how it feels...

Sampai sekarang pun, terkadang orangtua masih membantu aku dan itu membuat aku berpikir: "I." . Not in a negative way, but in a growth way. Aku ingin menjadi generasi yang lebih siap. Yang lebih kuat. Yang bisa memberi, bukan hanya menerima.

Informal Learning, Real Impact

Pendidikan yang aku jalani sekarang mostly informal:
  • Bootcamps
  • Online Class
  • Mentorship programs
  • Rencana memperpanjang sertifikasi BNSP
and honestly, this kind of learning feels more practical. Langsung bisa diaplikasikan ke bisnis. Langsung terasa impact-nya.

Final Reflection

2026 is not just about growing my business. It's about rebuilding myself. Becoming sharper. Becoming wiser. Becoming more prepared for life, for family, for the future. Because at the end of the day, this journey is not just about success. It's about becoming a woman who is strong, independent and still full of heart and i'm still learning every single day.





Mini Library at Home

Tidak ada komentar

 

Mini Library at Home

I find peace in a quiet corner at home, my mini library. It's not a big room, just a cozy space, my working room with a white and light wood desk, a small bookshelf and soft natural light. But trust me, it holds stories, ilmu and reflections that shape my journey every single day.

Honestly, building this mini library wasn't something I planned from the beginning. It started from "just buying books" 😀, self development, digital marketing, business strategy, motivation, novel, sampai buku kerajinan tangan seperti menjahit, payet, dan DIY. Lama-lama, koleksi makin bannyak and I realized, I needed a system.

My Book Collection: A Reflection of My Journey

Kalau dilihat sekarang, koleksi buku aku itu sangat "me banget" dan koleksi aku mix ada yang Bahasa Indonesia juga ada yang English Book, there are:

  • Self development books (because growth is a lifelong jorney)
  • Digital Marketing & business (essential for my entrepreneur life)
  • Motivation & mindset
  • Crafting & DIY books (my creative escape)

Setiap buku punya cerita. Ada yang aku beli saat lagi semangat belajar bisnis, ada juga yang menemani di perjalanan panjang syiar Baitullah.

But here's the truth... Not all books are fully read. Yes, I said it and I'm sure you can relate too.

Kadang kita beli buku karena excited, tapi waktu belum sempat. Dulu aku merasa "guilty" soal ini. Tapi sekarang, I see it differently. Buku itu bukan lomba asiapa yang paling cepat selesai, tapi tentang kapan kita siap menyerap isinya.

How I Sort My Mini Library

Seiring waktu, aku mulai membuat sistem sederhana untuk memilah buku. This changed everything. 

1. Books I Have Finished Reading

Ini adalah uku-buku yang sudah aku baca sampai selesai dan benar-benar aku pahami. Biasanya aku tandai dengan sticky notes atau higlight.

Dari kategori ini, aku akan pilih:

  • Buku yang ingin aku simpan (because I will re-read them)
  • Buku yang bisa aku share ke orang lain.

Aku percaya ilmu itu akan lebih berkah kalau dibagikan

2. Books That Are Still "In Progress"

Ini buku-buku yang belum selesai dibaca. Aku tidak memaksakan diri untuk langsung selesai. Instead, I create a reading mood system:

  • Lagi butuh motivasi --> baca buku mindset
  • Lagi fokus bisnis --> baca digital marketing
  • Lagi santai --> baca DIY

This way, membaca jadi lebih natural dan enjoyable

3. Outdated Books (Especially Digital Marketing)

Nah, ini penting banget. Dunia digital marketing itu cepat sekali berubah. Buku yang relevan 3-5 tahun lalu, bisa jadi sudah tidak applicable sekarang. Biasanya aku akan:

  • Review ulang isi bukunya
  • Ambil insight yang masih relevan
  • Let it go

Aku biasanya memberikan buku ini ke teman atau aku preloved itu buku hehehe. Because even outdated knowledge can still be a starting point for someone.

Do I Keep All My Books? No

Dulu aku berpikir semua buku harus disimpan. Tapi sekarang, I choose intentionally. Aku selalu tanya ke diri sendiri:

  • Apakah buku ini masih relevan dengan hidupku sekarang?
  • Apakah aku akan membacanya lagi?
  • Apakah orang lain bisa mendapatkan manfaat lebih dari buku ini?

Kalau jawabannya "no", then it's time to release it. Minimal setiap 6 bulan sekali aku lakukan "mini library detox"

My Mini Library Management Plan

Supaya tidak berantakan lagi, aku sekarang punya sistem sederhana yang sangat membantu.

1. Categorize by Topic. Aku pisahkan rak berdasarkan kategori: Self development, business and marketing, Creative and DIY. This makes it easier to find what I need.

2. One in, One Out Rule. Setiap beli buku baru, aku akan mempertimbangkan untuk melepas satu buku lama. It keeps my collection fresh and intentional.

3. Monthly Reading Intention. Setiap bulan, aku pilih 2-3 buku untuk difokuskan. Tidak banyak, tapi konsisten.

4. Sharing is Part of the System. Aku jadikan "memberi buku" sebagai bagian dari sistem, bukan sekedar decluttering. Ada rasa bahagia yang berbeda saat melihat buku kita bermanfaat untuk orang lain.

My Reflection

Mini library ini bukan sekedar tempat menyimpan buku. It's a space growth, reflection and barakah. Di sela-sela kesibukan sebegai entrepreneur, duduk sebentar di ruang kecil ini, membuka buku, dan merenung, rasanya seperti recharge energy.

And I realize something important: We don't need a big library to have a meaningful one. 

Yang penting bukan seberapa banyak bukunya, tapi: seberapa dalam kita memahami isinya, seberapa bijak kita memilih dan seberapa ikhlas kita berbagi. Because knowledge grows when it flows.

Kalau kamu punya mini library juga di rumah, tell me. Are you a book keeper or a book giver?





Choosing My Circle at 40+: Between Growth, Peace & Purpose

Tidak ada komentar

 

Choosing My Circle at 40+: Between Growth, Peace & Purpose

There's something beautifully different about entering your 40 plus plus season of life. It's quieter, wiser and somehow more intentional.

Di fase ini, aku mulai menyadari satu hal penting: not everyone is meant to stay in your circle dan itu bukan hal yang menyedihkan, but actually empowering.

Learning to Choose, Not Just Accept

Dulu, aku termasuk orang yang "ikut saja". Ikut komunitas ini, hadir di acara itu, mencoba stay connected dengan banyak orang. But now? I choose, I filter and I prioritize.

Di usia sekarang, aku mulai membatasi dan memilih circle, bukan karena sombong, but because I finally understand what truly matters:

  • Ketenangan hati
  • Kesehatan fisik & mental
  • Growth yang aligned dengan purpose hidup

My Travel Business: A Journey with Gen X & Baby Boomers

Dalam bisnis travel Haji Umroh yang aku bangun, tim mitra aku mayoritas berada di usia 45 tahun ke atas yaitu Gen X dan Baby Boomer and honestly? It's a whole different dynamic.

Aku bertemu dengan berbagai karakter: 

  • Ada yang produktitivitasnya tidak secepat generasi muda
  • Tidak suka terburu-buru dan di buru buru (kejar deadline)
  • Lebih santai dalam mengambil keputusan (sudah tidak terlalu ambisius)
  • Dan yes, ada juga yang sedikit "baperan"

At first, it was challenging. Aku yang terbiasa dengan ritme cepat, harus belajar slowing down. But then I realized: This is where growth happens. Because understanding people is part of building a sustainable business. Apalagi di industri travel, yang sangat mengandalkan trust, komunikasi dan kenyamanan.

"When you learn how to speak their language, you build not just a team, but family."

Justru dari sini aku belajar lebih sabar, lebih empati dan lebih bijak dalam komunikasi and suprisingly, I enjoy it.

Setiap travel haji umroh itu wajib daftar di Asosiasi dan kalau di asosisasi, ceritanya berbeda lagi. Lebih random. Dari milenial sampai baby boomer semua ada, bahkan mungkin sekarang ada travel baru yang ownernya dari kalangan Gen Z.

Ini seperti "mini dunia nyata" dimana semua karakter berkumpul jadi satu. Ada yang manipulatif, ada yang memiliki ambisi, ada yang tidak mau terkalahkan, ada yang adem ayem sampai hanya sekedar syarat saja bergabung dan berinteraksi di asosiasi.

Kadang melelahkan, but also enriching. Karena disini aku belajar bagaimana menyampaikan ide ke generasi muda dengan cara yang engaging dan di saat yang sama, tetap menghormati cara berpikir generasi yang lebih senior. 

It's like switching languages, emotionally and intellectually.

Protecting My Energy: New Priority

Seiring waktu, aku juga mulai menyadari bahwa energy is currency. Aku mulai membatasi aktivitas. Tidak lagi menghadiri semua undangan. Tidak lagi merasa harus selalu ada. 

Now I ask myself:

  • Apakah ini membawa kebahagiaan?
  • Apakah ini memberi ketenangan?
  • Apakah ini baik untuk kesehatan fisik dan rohani aku?
  • Apakah ini memberikan dampak baik demi kemajuan bisnis aku?

Kalau jawabannya tidak, then I gently step back. Because at tis stage of life, peace is non-negotiable.

My Modest Fashion Business: Where Creativity Flows

Berbeda dengan bisnis travel, di bisnis modest fashion, aku justru memilih segmen yang lebih luas, dari Gen Z sampai Gen X and oh, I Love this space! Circle di sini terasa lebih: vibrant, expressive, penuh ide segar. 

Gen Z membaca kreativitas dan keberanian, Gen Milenial membawa aku untuk bereksperimen, sementara Gen X memberi kestabilan dan pengalaman. It's a perfect balance. Walau tetap di usia ku 40+ ini, aku tetap membatasi dan memilih mana yang ada di dalam list pertemanan ku.

"Creativity grows when you surround yourself with people who dare to think differently

So... Is My Circle Growing or Shinking?

Ini pertanyaan yang sering muncul. Apakah circle aku semakin bertambah? Atau justru berkurang? Jawabannya: neither. Tidak bertambah dan tidak juga berkurang. 

Aku hanya mengganti. Mengganti dengan yang lebih:

  • Aligned dengan visi hidup aku
  • Mendukung perjalanan aku 5-10 tahun ke depan
  • Membawa aku lebih dekat dengan versi terbaik diri aku.

Because at the end of the day, it's not about how many people are in your circle, but who truly belongs there.

Closing Reflection

Di usia 40+, hidup bukan lagi tentang proving something to the world, it's about: living with intention, choosing with awareness and surrounding yourself with the right people.

Aku bersyukur dengan perjalanan ini. Dengan semua karakter yang aku temui, dengan semua dinamika yang kadang menguras energi, tapi juga membentuk aku jadi lebih kuat.

And if you're in the same phase as me...

  • It's okay to choose
  • It's okay to outgrow people
  • It's okay to protect your peace

Because you deserve a circle that feels like home 🤍




Networking Lessons from Gen Z

Tidak ada komentar

 

Networking Lessons from Gen Z


I have always believed bahwa networking adalah salah satu kunci utama dalam bertumbuh. Tapi jujur saja, cara aku membangun relasi dulu sangat berbeda dengan apa yang aku lihat sekarang, especially dari Gen Z.

And yes, one of my biggest teachers is...my own child 😊. Anak sulung aku yang saat ini masih kuliah, tapi sudah mulai merintis bisnisnya sendiri. Watching his journey feels like opening a new window. Cara dia connect, engage dan build trust dengan orang lain itu fresh banget.

1. Authenticity is the New Currency

Kalau dulu kita diajarkan untuk selalu "formal" dalam berjejaring. Gen Z malah sebaliknya. They show up as they are. Aku melihat anakku tidak takut untuk menjadi diri sendiri di depan calon partner bisnis. He shares his journey, struggles, bahkan hal-hal kecil yang relatable. and suprisingly, that builds stronger connections.

Lesson learned: Networking bukan soal terlihat "sempurna", tapi soal menjadi real dan relatable

In my own experience, ketika aku mulai lebih open saat sharing di komunitas Gen Z, terutama dalam bidang bisnis (karena aku lebih sering di undang jadi narasumber untuk sharing seputar bisnis), malah responnya lebih hangat. Mereka connect dengan cerita, bukan hanya pencapaian.

2. Digital Networking is Not Optional, It's Essential

Gen Z hidup di dunia digital and they maximize it. Anakku bisa dapat peluang kolaborasi hanya dari DM Instagram atau LinkedIn. He builds relationships not only offline, but consistently online. 

Aku jadi tersadar, bahwa sebagai business owner, kita tidak bisa hanya mengandalkan networking konvensional seperti event atau seminar.

Lesson learned: Your Digital presence is your new business card.

Sekarang aku pun mulai lebih aktif membangun personal branding, sharing daily life sebagai muslimahpreneur, perjalanan umroh hingga behind the scene bisnis, and it works.

3. Community Over Competition

Ini yang paling aku kagumi. Gen Z sangat kuat dalam membangun komunitas. Aku beberapa kali diundang sebagai pembicara di komunitas yang mayoritas Gen Z. Yang aku lihat bukan persaingan, tapi kolaborasi. Mereka saling support, share resources, bahkan promote each other.

It's not "me vs you" anymore. It's "Let's grow together."

Lesson learned: Networking terbaik bukan sekedar menambah kontak, tapi membangun ekosistem.

Ini mengingatkan aku bahwa dalam bisnis travel atau modest fashion, kolaborasi bisa jauh lebih powerful daripada berjalan sendiri.

4. Value First, Then Relationship

Gen Z tidak suka Hard Selling dan ini sangat terasa. Anakku selalu fokus pada bagaimana dia bisa memberikan value terlebih dahulu. Entah itu melalui konten, insight atau bahkan sekadar membantu orang lain connect ke orang yang tepat.

Without realizing it, hubungan yang terbangun jadi lebih tulus.

Lesson learned: Give before you ask.

Dalam perjalanan aku sebagai muslimahpreneur, aku mulai mengubah pendekatan. Bukan langsung menawarkan produk, tapi lebih ke sharing manfaat, edukasi dan inspirasi.

5. Fast, Responsive and Intentional

Gen Z itu cepat. Respon cepat, decision cepat bahkan networking pun cepat. Tapi bukan berarti asal-asalan. Mereka tetap intentional, memilih mana relasi yang sejalan dengan value mereka. Aku belajar untuk lebih menghargai waktu dalam networking. Tidak menunda fllow up, tidak membiarkan pesan menggantung terlalu lama.

Lesson learned: Respect time, yours and others.

Reflection: Bridging Generation in Business

Honestly, being in between, sebagai Gen X atau Milenial yang banyak berinteraksi dengan Gen Z itu seperti menjadi jembatan. Aku belajar bahwa tidak ada cara yang "paling benar" dalam networking. Tapi ada cara yang lebih relevan dengan zaman.

Sebagai seorang muslimahpreneur, aku merasa penting untuk terus adaptif. Karena bisnis bukan hanya tentang produk, tapi tentang people and connection.

Closing Thoughts

Pelajaran networking dari Gen Z ini membuka mata aku bahwa dunia sudah berubah and we need to evolve. 

  • From being formal to being authentic
  • From selling to serving
  • From competing to collaborating

And the most beautiful part? Aku belajar ini bukan dari buku atau seminar mahal, tapi dari anak aku sendiri dan dari komunitas Gen Z yang aku temui di perjalanan.

So, for you, para milenial atau Gen X yang sedang membangun bisnis, maybe it's time to pause and reflect: Are We Networking or Just Collecting Contact.

Karena pada akhirnnya, networking yang kuat bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tapi seberapa dalam hubungan yang kita bangun.






Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Tidak ada komentar


Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Ada satu hal yang selalu bikin aku tersenyum sendiri setiap kali membuka folder lama di laptop, draft blog posts dari tahun 2010. Yes, that was the year I started my journey as a fashion blogger. Back to 2010, back to the era when blogging felt so pure, so personal and so magical

Masa dimana blogging bukan sekadar "content writer" or "content creation", tapi benar-benar tentang pasion, self-expression dan heart. It wasn't about algorithms, or engagement rates. It was about expression, it was about stories, it was about being unapologetically YOU. and honestly... that's what I miss the most.

The Rawness and Authenticity

Dulu, blogging itu rasanya seperti punya diary online. No pressure and No perfection. Seperti curhat sama teman saja. Mau nulis panjang, mau nulis pendek atau hanya post foto foto saja. 

Sekarang? Everything feels curated. Beautiful, yes. But sometimes... less soulful. Back then, setiap blog punya "jiwa". You could feel the person behind the screen.

My Fashion Blogger Inspirations Back Then

Di masa itu, aku punya dua fashion blogger yang benar-benar aku admire. Mereka bukan hanya stylish, tapi juga punya karakter yang kuat dalam setiap karya mereka.

One of them was Diana Rikasari with her iconic blog Hot Chocolate & Mint

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Her style? Oh, so cheerful and colorful! She wasn't afraid of mixing patterns, playing with bold colors and being different. I Admired how she turned fashion into something playful and expressive.

She also loved DIY and upcyycling, dan aku benar-benar terinspirasi dari situ. I remember following her tutorials, cutting, sewing and transforming old clothes at home into something "new". It felt empowering and felt creative.

Fashion Blogger number two is Clara Devi from Lucedaleco. If Diana was bold and colorful, Clara was the opposite side of beauty, vintage, elegant and girly dan jujur, Clara's style was so me.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

I felt deeply connected to her aesthetic. Soft tones, feminine silhouttes, timeless elegance. But of course, as my journey evolved, especially after I decided to fully embrace modest fashion, wearing hijab, gamis and long skirts. I adapted that style into my current identity.

From Blogging to Building a Brand

Yang aku kagumi dari mereka bukan hanya konsistensi dalam blogging, tapi juga bagaimana mereka evolve. Today, they are still actively sharinng, baik di blog maupun di Instagram. Not only that, mereka juga berhasil membangun fashion brand mereka sendiri dan yang paling penting, brand tersebut sangat "mereka banget". 

It reflects their DNA, their journey and their authenticity. As a muslimahpreneur, running my own business, I find this deeply inspiring. Because at the end of the day, bisnis yang kuat adalah bisnis yang punya cerita.

Blogging Taught Me More Than I Realized

Honestly, blogging shapped who I am today. Dari menulis blog, aku belajar storytelling, consistency dan how to connect with people on a deeper level. It wasn't just about fashion anymore. It became about life. Tentang perjalanan menjadi seorang perempuan, seorang entrepreneur dan seorang muslimah yang terus belajar.

Even now, di tengah dunia yang serba digital dan cepat, I still hold onto that blogging spirit. Menulis dengan hati dan sharing dengan tulus.

Why I Still Believe in Bloging?

Meskipun sekarang banyak platform baru bermunculan, I still believe blogging has its own magic. Blog adalah "rumah" kita, tempat di mana kita bisa bercerita tanpa batas, tanpa tekanan dan mungkin yang paling aku rindukan adalah perasaan itu, when writing felt like therapy, not strategy.

Now, I still write in my personal blog, cilyainwonderland.id, sharing my daily stories, about travel, fashion, beauty, business and life as a muslimahpreneur.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

But I also created something since 2020: yumnamagz.id, an online magazine platform where I share articles about fashion, beauty and business.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose


This is my way growing. From personal storytelling... to creating a space for wider impact.

My Hope Moving Forward

Semoga dari tulisan-tulisan kecilku, dari perjalanan yang aku bagikan, dan dari brand yang aku bangun, I can inspire others. Just like Diana Rikasari and Clara Devi inspired me back then. 

Because sometimes, you never know tthat your story, your blog and your small post. Might be the beginig of someone else's dream.

Blogging mungkin sudah banyak berubah. Platform datang dan pergi. Trends evolve. But one thing remains the same: Stories will always matter. Dan selama masih ada cerita yang ingin dibagikan, aku akan terus menulis. 

Because at the end of the day, this is not just about fashion. This is about leaving a piece of ourselves in every word we write.




Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

3 komentar

 

Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Ada satu aroma yang selalu bisa membawa aku kembali ke masa lalu... the smell of Ayam Bakar. Bukan sekedar ayam bakar biasa, tapi Ayam Bakar buatan Papa. with that signature Gorontalo spices, rich slightly sweet, and keep deeply comforting.

Setiap kali aku mencium aroma rempah yang terbakar di atas bara api, rasanya seperti dipeluk oleh kenangan. Papa selalu punya cara spesial dalam meracik bumbu. "Ini bukan cuma masakan, ini rasa," kata beliau dulu. Dan memang benar, karena Ayama Bakar Papa bukan hanya tentang rasa di lidah, tapi juga rasa di hati.

The Beginning: A Small Resto Kios, Big Dreams

Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Tahun 2010 sampai 2012, we decided to turn that love into a small business. Kami buka kios sederhana di sekitar BSD Tangerang dengan nama restonya: "Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo". Ngga terlalu besar, tapi selalu ramai. Alhamdulillah, peminatnya banyak. Bahkan sering kehabisan sebelum waktu tutup. Banyak pelanggan yang balik lagi karena katanya "beda banget rasanya...".

Ayam Bakar kami punya ciri khas bumbu rempah khas Gorontalo yang kuat, tapi tetap ada sentuhan manis yang lembut. It was comfort food, but also something unique. Tapi di balik ramainya mini resto di kios itu, ada cerita lain yang ngga banyak orang tahu.

The Hard Truth About Business: It's Not Always About Profit

Banyak orang pikir kalau bisnis tutup itu karena rugi. But in our case, it wasn't. Kami justru tutup saat kondisi lagi bagus. Maslahnya ada di SDM (Sumber Daya manusia). Pegawai sering keluar masuk, sulit mencari yang benar-benar bisa dipercaya dan konsisten. lama-lama, aku dan Papa mulai lelah. 

Managing people is sometimes harder than managing the business itself. 

Akhirnya, dengan berat hati... kami memutuskan untuk tutup. Banyak yang menyayangkan, bahkan sampai sekarang masih ada yang tanya, "Kapan buka lagi?"

Dan setiap kali ditanya itu... ada rasa hangat sekaligus sedih di hati.

Restarting the Journey: The Digital Era

Tahun 2017, saat platform seperti GoFood dan GrabFood mulai booming, aku mulai berpikir... maybe it's time to try again. We didn't open mini resto at kios this time. Kami mulai daru rumah.

Aku jualan dari rumahku dan Papa Mama juga dari rumah mereka. Simple, lebih manageable dan tetap bisa menjaga kualitas rasa dan ternyata... still works!

Pelanggan lama Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo kembali, pelanggan baru pun berdatangan. It Felt like the past came back, but in a different form. Kami jalani bisnis ini sampai sekitar tahun 2020.

When Life Happens...

Pandemi datang dan semua berubah. Papa saat itu kena Covid. It was one of the hardest moments in our lives. Tanpa banyak pertimbangan, kami memutuskan untuk stop jualan. Fokus kami hanya satu yaitu kesehatan Papa. Dan sejak saat itu, kami belum pernah benar-benar memulai lagi.

A Recipe That Lives in the Heart

Tahun 2024, Papa berpulang 😢😢.

Dan sejak itu, setiap kali aku mendengar kata Ayam bakar, hatiku langsung penuh. Bukan hanya karena rasanya, tapi karena semua kenangan di baliknya. 

Resep itu masih ada. Aku dan adik-adik juga membuatnya. The spices, the technique, the process... semuanya masih kami ingat.

But Somehow, it's not just about cooking. Ada rasa yang belum siap untuk dihidupkan kembali. Karena bagi kami, ayam bakar itu bukan sekedar makanan. Itu adalah simbol cinta, perjuangan dan kebersamaan dengan papa.

Maybe... Someday

Kadang aku berpikir, mungkin suatu hari nanti, the heart is ready, kami akan mulai lagi. Bukan hanya untuk bisnis, tapi untuk menjaga warisan. Untuk mengenang Papa, dengan cara yang paling beliau cintai.

Cooking!

Untuil then, biarlah ayam bakar itu tetap hidup di hati kami. A quiet legacy, wrapped in spices, sweetness and love.

Insha Allah, Someday... we will bring Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo back to life 💕💕




5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis

Tidak ada komentar

 

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Assalamualaykum,

Kali ini aku mau bahas seputar tonton-an channel YouTube favorit aku. Sebenarnya aku banyak ya subscribe YouTube Channel, mulai dari tema masakan, traveling, Journaling, Modest Fashion sampe YouTube Channel teman-teman sesama Vlogger dan Blogger. Sebagai salah satu Mompreneur dan juga Muslimahpreneur, aku selalu percaya bahwa growth is intentional. 

Growth itu harus diupayakan. Salah satu cara aku upgrade diri adalah dengan rutin menonton podcast dan YouTube channel yang insightful. Di sela-sela jadwal handle jamaah umroh, meeting dan kasih mentoring atau bahkan ngurusin my modest fashion collection, sampai urus stok AHP, aku punya me-time sederhana: watching inspiring YouTube channels sambil minum kopi atau coklat hangat. 

5 channel favoritku yang benar-benar memberi impact.

1. Purwadhika Digital Technology School

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka banget episode yang menghadirkan Pak Andin Rahmana dan Bu Mandy Purwa Hartono. Insight mereka tentang digital business, marketing & Sales relate dengan perjalanan bisnisku. 

Sebagai owner dari beberapa bisnis, digital marketing is no longer optional. Dari channel ini aku belajar bagaimana pentingnya adaptasi teknologi, personal branding, marketing dan sistem bisnis yang sustainable. Rasanya seperti ikut kelas singkat tapi powerful.

2. Hamimommy & Honeyjubu

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Honestly, ini guilty pleasure tapi juga productive pleasure sih. Channel mereka (ini dua channel berbeda btw), berisi kegiatan beres-beres rumah, masak, daily routine dalam format ASMR yang calming banget.

Kadang setelah seharian meeting atau aktivitas syiar di luar, aku nonton ini untuk recharge energy. Anehnya, habis nonton malah jadi semangat beres-beres rumah, kulkas, food wrap hahaha. It reminds me bahwa being productive doesn't always mean being busy, sometimes it means being present.

3. Creativera

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Ini salah satu channel podcast favoritku untuk belajar seputar branding dan business strategy. Narasumbernya selalu berbobot dan real practitioner. Ternyata di Indonesia banyak juga lho anak muda atau bahkan generasi milenial yang bagus banget ilmunya.

Sebagai muslimahpreneur, aku sadar bahwa branding bukan cuma soal logo atau feed instagram yang setetik. Branding is about value, story dan consistency. Dari sini aku belajar cara positioning bisnis travel haji umroh dan modest fashion aku supaya punya diferensiasi yang  kuat di market.

4. The Balance Theory

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Podcast ini fokus pada self development dan confidence building. YouTube Channel ini dari luar negeri dan tentunya full bahasa Inggris dan ini jadi melatih aku juga pronunciation English aku. Aku merasa sebagai perempuan muslimah, penting banget untuk punya self worth dan clarity in life.

Listening to this podcast membuatku lebih mindful dalam mengambil keputusan bisnis, lebih tenang menghadapi tantangan dan lebih percaya diri saat berbicara di depan tim maupun jamaah.

5. Aziza Francienne

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka dengan perjalanan Aziza dalam berhijab (ini channel YouTube orang Indo ya btw). Dia suka sharing mengenai aktivitasnya kuliah, bekerja di Inggris serta explore kuliner halal dan tempat-tempat menarik di UK.

Cerita-ceritanya bikin aku tambah kepingin banget tinggal di London - UK. Yang aku pernah sharing di beberapa tulisan blog aku sebelumnya kalau aku dari kecil suka banget sama London - UK. Mulai dari dialek bahasanya yang khas, bangunannya serta culture nya. Apalagi sekarang makin banyak orang Islam di sana. I realize that being global muslimah itu nyata. Kita bisa tetap berhijab, tetap ambitious dan tetap humble.

Manfaat Nonton Podcast untuk Bisnis & Self Development

Aku selalu catat inti dari apa yang aku dapat setelah nonton Youtube channel mereka terutama yang membantu dalam perkembangan bisnis juga diri aku pribadi. Dari lima channel ini, aku merasakan banyak manfaat:

  • Menambah ilmu bisnis, marketing, sales dan strategi branding
  • Memperkaya vocabulary dan cara berbicara profesional
  • Membuka minset baru untuk self growth
  • Menjadi motivasi untuk terus upgrade diri
  • Menumbuhkan semangat berbagi positive vibes

Sebagai blogger, muslimah speaker, muslimah influencer juga pebisnis, aku merasa tanggung jawab untuk share hal-hal baik di media sosial. Because when we share knowledge, we create impact. Dan semoga setiap insight yang aku bagikan ke follower menjadi amal jariyah untukku kelak.

Apakah kamu juga punya YouTube Channel favorit? Yuk sharing nama YouTube Channelnya dan manfaat apa yang kamu dapatin setelah nonton di kolom komen ya...💗