Tampilkan postingan dengan label cilya in wonderland. Tampilkan semua postingan

Mini Library at Home

Tidak ada komentar

 

Mini Library at Home

I find peace in a quiet corner at home, my mini library. It's not a big room, just a cozy space, my working room with a white and light wood desk, a small bookshelf and soft natural light. But trust me, it holds stories, ilmu and reflections that shape my journey every single day.

Honestly, building this mini library wasn't something I planned from the beginning. It started from "just buying books" 😀, self development, digital marketing, business strategy, motivation, novel, sampai buku kerajinan tangan seperti menjahit, payet, dan DIY. Lama-lama, koleksi makin bannyak and I realized, I needed a system.

My Book Collection: A Reflection of My Journey

Kalau dilihat sekarang, koleksi buku aku itu sangat "me banget" dan koleksi aku mix ada yang Bahasa Indonesia juga ada yang English Book, there are:

  • Self development books (because growth is a lifelong jorney)
  • Digital Marketing & business (essential for my entrepreneur life)
  • Motivation & mindset
  • Crafting & DIY books (my creative escape)

Setiap buku punya cerita. Ada yang aku beli saat lagi semangat belajar bisnis, ada juga yang menemani di perjalanan panjang syiar Baitullah.

But here's the truth... Not all books are fully read. Yes, I said it and I'm sure you can relate too.

Kadang kita beli buku karena excited, tapi waktu belum sempat. Dulu aku merasa "guilty" soal ini. Tapi sekarang, I see it differently. Buku itu bukan lomba asiapa yang paling cepat selesai, tapi tentang kapan kita siap menyerap isinya.

How I Sort My Mini Library

Seiring waktu, aku mulai membuat sistem sederhana untuk memilah buku. This changed everything. 

1. Books I Have Finished Reading

Ini adalah uku-buku yang sudah aku baca sampai selesai dan benar-benar aku pahami. Biasanya aku tandai dengan sticky notes atau higlight.

Dari kategori ini, aku akan pilih:

  • Buku yang ingin aku simpan (because I will re-read them)
  • Buku yang bisa aku share ke orang lain.

Aku percaya ilmu itu akan lebih berkah kalau dibagikan

2. Books That Are Still "In Progress"

Ini buku-buku yang belum selesai dibaca. Aku tidak memaksakan diri untuk langsung selesai. Instead, I create a reading mood system:

  • Lagi butuh motivasi --> baca buku mindset
  • Lagi fokus bisnis --> baca digital marketing
  • Lagi santai --> baca DIY

This way, membaca jadi lebih natural dan enjoyable

3. Outdated Books (Especially Digital Marketing)

Nah, ini penting banget. Dunia digital marketing itu cepat sekali berubah. Buku yang relevan 3-5 tahun lalu, bisa jadi sudah tidak applicable sekarang. Biasanya aku akan:

  • Review ulang isi bukunya
  • Ambil insight yang masih relevan
  • Let it go

Aku biasanya memberikan buku ini ke teman atau aku preloved itu buku hehehe. Because even outdated knowledge can still be a starting point for someone.

Do I Keep All My Books? No

Dulu aku berpikir semua buku harus disimpan. Tapi sekarang, I choose intentionally. Aku selalu tanya ke diri sendiri:

  • Apakah buku ini masih relevan dengan hidupku sekarang?
  • Apakah aku akan membacanya lagi?
  • Apakah orang lain bisa mendapatkan manfaat lebih dari buku ini?

Kalau jawabannya "no", then it's time to release it. Minimal setiap 6 bulan sekali aku lakukan "mini library detox"

My Mini Library Management Plan

Supaya tidak berantakan lagi, aku sekarang punya sistem sederhana yang sangat membantu.

1. Categorize by Topic. Aku pisahkan rak berdasarkan kategori: Self development, business and marketing, Creative and DIY. This makes it easier to find what I need.

2. One in, One Out Rule. Setiap beli buku baru, aku akan mempertimbangkan untuk melepas satu buku lama. It keeps my collection fresh and intentional.

3. Monthly Reading Intention. Setiap bulan, aku pilih 2-3 buku untuk difokuskan. Tidak banyak, tapi konsisten.

4. Sharing is Part of the System. Aku jadikan "memberi buku" sebagai bagian dari sistem, bukan sekedar decluttering. Ada rasa bahagia yang berbeda saat melihat buku kita bermanfaat untuk orang lain.

My Reflection

Mini library ini bukan sekedar tempat menyimpan buku. It's a space growth, reflection and barakah. Di sela-sela kesibukan sebegai entrepreneur, duduk sebentar di ruang kecil ini, membuka buku, dan merenung, rasanya seperti recharge energy.

And I realize something important: We don't need a big library to have a meaningful one. 

Yang penting bukan seberapa banyak bukunya, tapi: seberapa dalam kita memahami isinya, seberapa bijak kita memilih dan seberapa ikhlas kita berbagi. Because knowledge grows when it flows.

Kalau kamu punya mini library juga di rumah, tell me. Are you a book keeper or a book giver?





Choosing My Circle at 40+: Between Growth, Peace & Purpose

Tidak ada komentar

 

Choosing My Circle at 40+: Between Growth, Peace & Purpose

There's something beautifully different about entering your 40 plus plus season of life. It's quieter, wiser and somehow more intentional.

Di fase ini, aku mulai menyadari satu hal penting: not everyone is meant to stay in your circle dan itu bukan hal yang menyedihkan, but actually empowering.

Learning to Choose, Not Just Accept

Dulu, aku termasuk orang yang "ikut saja". Ikut komunitas ini, hadir di acara itu, mencoba stay connected dengan banyak orang. But now? I choose, I filter and I prioritize.

Di usia sekarang, aku mulai membatasi dan memilih circle, bukan karena sombong, but because I finally understand what truly matters:

  • Ketenangan hati
  • Kesehatan fisik & mental
  • Growth yang aligned dengan purpose hidup

My Travel Business: A Journey with Gen X & Baby Boomers

Dalam bisnis travel Haji Umroh yang aku bangun, tim mitra aku mayoritas berada di usia 45 tahun ke atas yaitu Gen X dan Baby Boomer and honestly? It's a whole different dynamic.

Aku bertemu dengan berbagai karakter: 

  • Ada yang produktitivitasnya tidak secepat generasi muda
  • Tidak suka terburu-buru dan di buru buru (kejar deadline)
  • Lebih santai dalam mengambil keputusan (sudah tidak terlalu ambisius)
  • Dan yes, ada juga yang sedikit "baperan"

At first, it was challenging. Aku yang terbiasa dengan ritme cepat, harus belajar slowing down. But then I realized: This is where growth happens. Because understanding people is part of building a sustainable business. Apalagi di industri travel, yang sangat mengandalkan trust, komunikasi dan kenyamanan.

"When you learn how to speak their language, you build not just a team, but family."

Justru dari sini aku belajar lebih sabar, lebih empati dan lebih bijak dalam komunikasi and suprisingly, I enjoy it.

Setiap travel haji umroh itu wajib daftar di Asosiasi dan kalau di asosisasi, ceritanya berbeda lagi. Lebih random. Dari milenial sampai baby boomer semua ada, bahkan mungkin sekarang ada travel baru yang ownernya dari kalangan Gen Z.

Ini seperti "mini dunia nyata" dimana semua karakter berkumpul jadi satu. Ada yang manipulatif, ada yang memiliki ambisi, ada yang tidak mau terkalahkan, ada yang adem ayem sampai hanya sekedar syarat saja bergabung dan berinteraksi di asosiasi.

Kadang melelahkan, but also enriching. Karena disini aku belajar bagaimana menyampaikan ide ke generasi muda dengan cara yang engaging dan di saat yang sama, tetap menghormati cara berpikir generasi yang lebih senior. 

It's like switching languages, emotionally and intellectually.

Protecting My Energy: New Priority

Seiring waktu, aku juga mulai menyadari bahwa energy is currency. Aku mulai membatasi aktivitas. Tidak lagi menghadiri semua undangan. Tidak lagi merasa harus selalu ada. 

Now I ask myself:

  • Apakah ini membawa kebahagiaan?
  • Apakah ini memberi ketenangan?
  • Apakah ini baik untuk kesehatan fisik dan rohani aku?
  • Apakah ini memberikan dampak baik demi kemajuan bisnis aku?

Kalau jawabannya tidak, then I gently step back. Because at tis stage of life, peace is non-negotiable.

My Modest Fashion Business: Where Creativity Flows

Berbeda dengan bisnis travel, di bisnis modest fashion, aku justru memilih segmen yang lebih luas, dari Gen Z sampai Gen X and oh, I Love this space! Circle di sini terasa lebih: vibrant, expressive, penuh ide segar. 

Gen Z membaca kreativitas dan keberanian, Gen Milenial membawa aku untuk bereksperimen, sementara Gen X memberi kestabilan dan pengalaman. It's a perfect balance. Walau tetap di usia ku 40+ ini, aku tetap membatasi dan memilih mana yang ada di dalam list pertemanan ku.

"Creativity grows when you surround yourself with people who dare to think differently

So... Is My Circle Growing or Shinking?

Ini pertanyaan yang sering muncul. Apakah circle aku semakin bertambah? Atau justru berkurang? Jawabannya: neither. Tidak bertambah dan tidak juga berkurang. 

Aku hanya mengganti. Mengganti dengan yang lebih:

  • Aligned dengan visi hidup aku
  • Mendukung perjalanan aku 5-10 tahun ke depan
  • Membawa aku lebih dekat dengan versi terbaik diri aku.

Because at the end of the day, it's not about how many people are in your circle, but who truly belongs there.

Closing Reflection

Di usia 40+, hidup bukan lagi tentang proving something to the world, it's about: living with intention, choosing with awareness and surrounding yourself with the right people.

Aku bersyukur dengan perjalanan ini. Dengan semua karakter yang aku temui, dengan semua dinamika yang kadang menguras energi, tapi juga membentuk aku jadi lebih kuat.

And if you're in the same phase as me...

  • It's okay to choose
  • It's okay to outgrow people
  • It's okay to protect your peace

Because you deserve a circle that feels like home 🤍




Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Tidak ada komentar


Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Ada satu hal yang selalu bikin aku tersenyum sendiri setiap kali membuka folder lama di laptop, draft blog posts dari tahun 2010. Yes, that was the year I started my journey as a fashion blogger. Back to 2010, back to the era when blogging felt so pure, so personal and so magical

Masa dimana blogging bukan sekadar "content writer" or "content creation", tapi benar-benar tentang pasion, self-expression dan heart. It wasn't about algorithms, or engagement rates. It was about expression, it was about stories, it was about being unapologetically YOU. and honestly... that's what I miss the most.

The Rawness and Authenticity

Dulu, blogging itu rasanya seperti punya diary online. No pressure and No perfection. Seperti curhat sama teman saja. Mau nulis panjang, mau nulis pendek atau hanya post foto foto saja. 

Sekarang? Everything feels curated. Beautiful, yes. But sometimes... less soulful. Back then, setiap blog punya "jiwa". You could feel the person behind the screen.

My Fashion Blogger Inspirations Back Then

Di masa itu, aku punya dua fashion blogger yang benar-benar aku admire. Mereka bukan hanya stylish, tapi juga punya karakter yang kuat dalam setiap karya mereka.

One of them was Diana Rikasari with her iconic blog Hot Chocolate & Mint

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

Her style? Oh, so cheerful and colorful! She wasn't afraid of mixing patterns, playing with bold colors and being different. I Admired how she turned fashion into something playful and expressive.

She also loved DIY and upcyycling, dan aku benar-benar terinspirasi dari situ. I remember following her tutorials, cutting, sewing and transforming old clothes at home into something "new". It felt empowering and felt creative.

Fashion Blogger number two is Clara Devi from Lucedaleco. If Diana was bold and colorful, Clara was the opposite side of beauty, vintage, elegant and girly dan jujur, Clara's style was so me.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

I felt deeply connected to her aesthetic. Soft tones, feminine silhouttes, timeless elegance. But of course, as my journey evolved, especially after I decided to fully embrace modest fashion, wearing hijab, gamis and long skirts. I adapted that style into my current identity.

From Blogging to Building a Brand

Yang aku kagumi dari mereka bukan hanya konsistensi dalam blogging, tapi juga bagaimana mereka evolve. Today, they are still actively sharinng, baik di blog maupun di Instagram. Not only that, mereka juga berhasil membangun fashion brand mereka sendiri dan yang paling penting, brand tersebut sangat "mereka banget". 

It reflects their DNA, their journey and their authenticity. As a muslimahpreneur, running my own business, I find this deeply inspiring. Because at the end of the day, bisnis yang kuat adalah bisnis yang punya cerita.

Blogging Taught Me More Than I Realized

Honestly, blogging shapped who I am today. Dari menulis blog, aku belajar storytelling, consistency dan how to connect with people on a deeper level. It wasn't just about fashion anymore. It became about life. Tentang perjalanan menjadi seorang perempuan, seorang entrepreneur dan seorang muslimah yang terus belajar.

Even now, di tengah dunia yang serba digital dan cepat, I still hold onto that blogging spirit. Menulis dengan hati dan sharing dengan tulus.

Why I Still Believe in Bloging?

Meskipun sekarang banyak platform baru bermunculan, I still believe blogging has its own magic. Blog adalah "rumah" kita, tempat di mana kita bisa bercerita tanpa batas, tanpa tekanan dan mungkin yang paling aku rindukan adalah perasaan itu, when writing felt like therapy, not strategy.

Now, I still write in my personal blog, cilyainwonderland.id, sharing my daily stories, about travel, fashion, beauty, business and life as a muslimahpreneur.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose

But I also created something since 2020: yumnamagz.id, an online magazine platform where I share articles about fashion, beauty and business.

Nostalgia Era blogging 2010: Fashion, Passion and Purpose


This is my way growing. From personal storytelling... to creating a space for wider impact.

My Hope Moving Forward

Semoga dari tulisan-tulisan kecilku, dari perjalanan yang aku bagikan, dan dari brand yang aku bangun, I can inspire others. Just like Diana Rikasari and Clara Devi inspired me back then. 

Because sometimes, you never know tthat your story, your blog and your small post. Might be the beginig of someone else's dream.

Blogging mungkin sudah banyak berubah. Platform datang dan pergi. Trends evolve. But one thing remains the same: Stories will always matter. Dan selama masih ada cerita yang ingin dibagikan, aku akan terus menulis. 

Because at the end of the day, this is not just about fashion. This is about leaving a piece of ourselves in every word we write.




Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Tidak ada komentar

 

Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Ada satu aroma yang selalu bisa membawa aku kembali ke masa lalu... the smell of Ayam Bakar. Bukan sekedar ayam bakar biasa, tapi Ayam Bakar buatan Papa. with that signature Gorontalo spices, rich slightly sweet, and keep deeply comforting.

Setiap kali aku mencium aroma rempah yang terbakar di atas bara api, rasanya seperti dipeluk oleh kenangan. Papa selalu punya cara spesial dalam meracik bumbu. "Ini bukan cuma masakan, ini rasa," kata beliau dulu. Dan memang benar, karena Ayama Bakar Papa bukan hanya tentang rasa di lidah, tapi juga rasa di hati.

The Beginning: A Small Resto Kios, Big Dreams

Ayam Bakar Papa. A Taste of Love, Legacy and Memories

Tahun 2010 sampai 2012, we decided to turn that love into a small business. Kami buka kios sederhana di sekitar BSD Tangerang dengan nama restonya: "Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo". Ngga terlalu besar, tapi selalu ramai. Alhamdulillah, peminatnya banyak. Bahkan sering kehabisan sebelum waktu tutup. Banyak pelanggan yang balik lagi karena katanya "beda banget rasanya...".

Ayam Bakar kami punya ciri khas bumbu rempah khas Gorontalo yang kuat, tapi tetap ada sentuhan manis yang lembut. It was comfort food, but also something unique. Tapi di balik ramainya mini resto di kios itu, ada cerita lain yang ngga banyak orang tahu.

The Hard Truth About Business: It's Not Always About Profit

Banyak orang pikir kalau bisnis tutup itu karena rugi. But in our case, it wasn't. Kami justru tutup saat kondisi lagi bagus. Maslahnya ada di SDM (Sumber Daya manusia). Pegawai sering keluar masuk, sulit mencari yang benar-benar bisa dipercaya dan konsisten. lama-lama, aku dan Papa mulai lelah. 

Managing people is sometimes harder than managing the business itself. 

Akhirnya, dengan berat hati... kami memutuskan untuk tutup. Banyak yang menyayangkan, bahkan sampai sekarang masih ada yang tanya, "Kapan buka lagi?"

Dan setiap kali ditanya itu... ada rasa hangat sekaligus sedih di hati.

Restarting the Journey: The Digital Era

Tahun 2017, saat platform seperti GoFood dan GrabFood mulai booming, aku mulai berpikir... maybe it's time to try again. We didn't open mini resto at kios this time. Kami mulai daru rumah.

Aku jualan dari rumahku dan Papa Mama juga dari rumah mereka. Simple, lebih manageable dan tetap bisa menjaga kualitas rasa dan ternyata... still works!

Pelanggan lama Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo kembali, pelanggan baru pun berdatangan. It Felt like the past came back, but in a different form. Kami jalani bisnis ini sampai sekitar tahun 2020.

When Life Happens...

Pandemi datang dan semua berubah. Papa saat itu kena Covid. It was one of the hardest moments in our lives. Tanpa banyak pertimbangan, kami memutuskan untuk stop jualan. Fokus kami hanya satu yaitu kesehatan Papa. Dan sejak saat itu, kami belum pernah benar-benar memulai lagi.

A Recipe That Lives in the Heart

Tahun 2024, Papa berpulang 😢😢.

Dan sejak itu, setiap kali aku mendengar kata Ayam bakar, hatiku langsung penuh. Bukan hanya karena rasanya, tapi karena semua kenangan di baliknya. 

Resep itu masih ada. Aku dan adik-adik juga membuatnya. The spices, the technique, the process... semuanya masih kami ingat.

But Somehow, it's not just about cooking. Ada rasa yang belum siap untuk dihidupkan kembali. Karena bagi kami, ayam bakar itu bukan sekedar makanan. Itu adalah simbol cinta, perjuangan dan kebersamaan dengan papa.

Maybe... Someday

Kadang aku berpikir, mungkin suatu hari nanti, the heart is ready, kami akan mulai lagi. Bukan hanya untuk bisnis, tapi untuk menjaga warisan. Untuk mengenang Papa, dengan cara yang paling beliau cintai.

Cooking!

Untuil then, biarlah ayam bakar itu tetap hidup di hati kami. A quiet legacy, wrapped in spices, sweetness and love.

Insha Allah, Someday... we will bring Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo back to life 💕💕




5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis

Tidak ada komentar

 

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Assalamualaykum,

Kali ini aku mau bahas seputar tonton-an channel YouTube favorit aku. Sebenarnya aku banyak ya subscribe YouTube Channel, mulai dari tema masakan, traveling, Journaling, Modest Fashion sampe YouTube Channel teman-teman sesama Vlogger dan Blogger. Sebagai salah satu Mompreneur dan juga Muslimahpreneur, aku selalu percaya bahwa growth is intentional. 

Growth itu harus diupayakan. Salah satu cara aku upgrade diri adalah dengan rutin menonton podcast dan YouTube channel yang insightful. Di sela-sela jadwal handle jamaah umroh, meeting dan kasih mentoring atau bahkan ngurusin my modest fashion collection, sampai urus stok AHP, aku punya me-time sederhana: watching inspiring YouTube channels sambil minum kopi atau coklat hangat. 

5 channel favoritku yang benar-benar memberi impact.

1. Purwadhika Digital Technology School

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka banget episode yang menghadirkan Pak Andin Rahmana dan Bu Mandy Purwa Hartono. Insight mereka tentang digital business, marketing & Sales relate dengan perjalanan bisnisku. 

Sebagai owner dari beberapa bisnis, digital marketing is no longer optional. Dari channel ini aku belajar bagaimana pentingnya adaptasi teknologi, personal branding, marketing dan sistem bisnis yang sustainable. Rasanya seperti ikut kelas singkat tapi powerful.

2. Hamimommy & Honeyjubu

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Honestly, ini guilty pleasure tapi juga productive pleasure sih. Channel mereka (ini dua channel berbeda btw), berisi kegiatan beres-beres rumah, masak, daily routine dalam format ASMR yang calming banget.

Kadang setelah seharian meeting atau aktivitas syiar di luar, aku nonton ini untuk recharge energy. Anehnya, habis nonton malah jadi semangat beres-beres rumah, kulkas, food wrap hahaha. It reminds me bahwa being productive doesn't always mean being busy, sometimes it means being present.

3. Creativera

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Ini salah satu channel podcast favoritku untuk belajar seputar branding dan business strategy. Narasumbernya selalu berbobot dan real practitioner. Ternyata di Indonesia banyak juga lho anak muda atau bahkan generasi milenial yang bagus banget ilmunya.

Sebagai muslimahpreneur, aku sadar bahwa branding bukan cuma soal logo atau feed instagram yang setetik. Branding is about value, story dan consistency. Dari sini aku belajar cara positioning bisnis travel haji umroh dan modest fashion aku supaya punya diferensiasi yang  kuat di market.

4. The Balance Theory

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Podcast ini fokus pada self development dan confidence building. YouTube Channel ini dari luar negeri dan tentunya full bahasa Inggris dan ini jadi melatih aku juga pronunciation English aku. Aku merasa sebagai perempuan muslimah, penting banget untuk punya self worth dan clarity in life.

Listening to this podcast membuatku lebih mindful dalam mengambil keputusan bisnis, lebih tenang menghadapi tantangan dan lebih percaya diri saat berbicara di depan tim maupun jamaah.

5. Aziza Francienne

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka dengan perjalanan Aziza dalam berhijab (ini channel YouTube orang Indo ya btw). Dia suka sharing mengenai aktivitasnya kuliah, bekerja di Inggris serta explore kuliner halal dan tempat-tempat menarik di UK.

Cerita-ceritanya bikin aku tambah kepingin banget tinggal di London - UK. Yang aku pernah sharing di beberapa tulisan blog aku sebelumnya kalau aku dari kecil suka banget sama London - UK. Mulai dari dialek bahasanya yang khas, bangunannya serta culture nya. Apalagi sekarang makin banyak orang Islam di sana. I realize that being global muslimah itu nyata. Kita bisa tetap berhijab, tetap ambitious dan tetap humble.

Manfaat Nonton Podcast untuk Bisnis & Self Development

Aku selalu catat inti dari apa yang aku dapat setelah nonton Youtube channel mereka terutama yang membantu dalam perkembangan bisnis juga diri aku pribadi. Dari lima channel ini, aku merasakan banyak manfaat:

  • Menambah ilmu bisnis, marketing, sales dan strategi branding
  • Memperkaya vocabulary dan cara berbicara profesional
  • Membuka minset baru untuk self growth
  • Menjadi motivasi untuk terus upgrade diri
  • Menumbuhkan semangat berbagi positive vibes

Sebagai blogger, muslimah speaker, muslimah influencer juga pebisnis, aku merasa tanggung jawab untuk share hal-hal baik di media sosial. Because when we share knowledge, we create impact. Dan semoga setiap insight yang aku bagikan ke follower menjadi amal jariyah untukku kelak.

Apakah kamu juga punya YouTube Channel favorit? Yuk sharing nama YouTube Channelnya dan manfaat apa yang kamu dapatin setelah nonton di kolom komen ya...💗



Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion

Tidak ada komentar

 

Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion


Assalamualaykum,

Siapa yang lemari bajunya numpuk dengan baju baju tapi masih saja bilang ngga punya baju? Hehehe... aku termasuk golongan ini 😁. But one thing for sure, aku belajar satu hal penting: hidup itu tentang balance. Balance antara ambisi dan syukur, antara growth dan simplicity.

Di tengah era ekonomi yang sedang naik turun ini, aku mulai bertanya pada diri sendiri, "Do I really need new clothes every season?" Jawabannya ternyata sederhana yaitu tidak selalu. Aku memilih untuk mencoba minimalist modest fashion lifestyle. Bukan karena tidak mampu membeli yang baru, tapi karena ingin lebih mindful dalam setiap keputusan. Especially soal fashion.

1. Upcycling Fashion: Old But Gold

Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion


Salah satu yang aku lakukan adalah
Upcycling Fashion. Ini bukan sekadar memakai baju lama, tapi proses kreatif untuk meningkatkan nilai pakaian lama menjadi sesuatu yang lebih estetik dan fungsional tanpa merusak bahan dasarnya.

Misalnya ada tunik lama yang warnanya masih cantik tapi modelnya terlalu basic. Aku tambahkan bordir kecil di bagian lengan atau mengganti kancingnya dengan yang lebih unik. Sometimes, I even add lace detail supaya terlihat lebih feminine.

Rasanya menyenangkan sekali ketika ada yang bilang, "MasyaAllah, bajunya baru ya?". Padahal itu hasil kreativitas dari lemari sendiri 😉.

Upcycling ini juga mengajarkan bahwa keberkahan itu seringkali tersembunyi dalam apa yang sudah kita miliki.

2. Refashion: Reuse with Style


Selanjutnya, aku mencoba
Refashion. Ini adalah tren fesyen yang fokus pada reuse pakaian lama dengan mengubah desainnya agar lebih modern.

Contohnya gamis lama aku yang modelnya terlalu lebar, aku potong sedikit dan tambahkan belt agar terlihat lebih structured. Atau scarf lama yang ukurannya besar, aku ubah menjadi outer yang chic untuk dipakai ke mall atau ke kantor aku.

In this economic climate, being stylish doesn't mean being wasteful.

Sebagai pebisnis modest fashion, aku justru merasa lebih autentik ketika bisa menunjukkan bahwa elegan itu bukan tentang harga, tapi tentang bagaimana kita membawa diri.

Refashion membuatku lebih kreatif dan lebih sadar bahwa style is not about trends, it's about identity.

3. Rework: Mixing Stories into One Outfit

Yang paling seru adalah Rework. Ini biasanya aku lakukan ketika menemukan dua pakaian lama yang sudah jarang dipakai.

Aku pernah menggabungkan dua kemeja berbeda, satu dengan motif floral, satu polos, lalu dijadikan satu desain baru dengan teknik patchwork sederhana. Hasilnya? Totally unique. Tidak ada yang sama.

Rework itu seperti hidup. Sometimes Allah combine different chapters of our life to create a better story. Begitu juga pakaian. Dua potong kain lama bisa berubah menjadi satu outfit dnegan karakter yang kuat.

Hidup minimalis bukan berarti hidup kekurangan. For me, minimalism is about intentional living. Memilih dengan sadar, membeli dengan bijak dan menggunakan dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai muslimahpreneur, aku ingin menunjukkan bahwa sustainable modest fashion itu bukan sekadar tren, tapi bagian dari nilai hidup.

Ekonomi boleh naik turun. tren boleh berubah. Tapi prinsip untuk hidup sederhana, elegan, dan penuh syukur itu ingin terus aku jaga. Karena pada akhirnya, style terbaik adalah ketika hati kita merasa cukup 💕💗




Me Time Ku: Jurnaling & Watching Movies adalah Cara Aku Merasa Lebih Hidup

Tidak ada komentar

 


Me Time Ku: Jurnaling & Watching Movies adalah Cara Aku Merasa Lebih Hidup


As a Mom and as a Mompreneur, aku belajar satu hal penting, being productive doesn't mean forgetting yourself. Di balik jadwal padat, meeting, live selling tanpa henti dan target bisnis yang harus dicapai, aku tetap butuh waktu untuk terkoneksi dengan diri sendiri. That's where me time becomes sacred.

Dulu aku berpikir me time itu harus mewah: spa, staycation, atau liburan jauh. Tapi semakin dewasa, aku sadar bahwa me time is about presence. Tentang bagaimana aku benar-benar hadir untuk diriku sendiri. Cara paling sederhana namun bermakna bagiku adalah jurnaling dan menonton film (baik itu di Netflix, Disney Channel atau VIU...I think they should pay me for endorsement 😁 )

Jurnaling: Percakapan Jujur dengan Diri Sendiri

Jurnaling adalah ritual kecil yang selalu aku sempatkan, usually di pagi hari setelah subuh atau malam sebelum tidur. Dengan secangkir minuman kesehatan yang hangat, aku membuka jurnal dan mulai menulis tanpa beban. tidak harus rapi, tidak harus puitis. Just write!

Aku menulis tentang apa yang aku rasakan hari itu, rasa lelah, syukur, harapan, quotes, bahkan ketakutan. As a muslimah, journaling juga menjadi bentuk muhasabah. Aku sering menyelipkan doa, ayat yang menenangkan, atau sekedar kalimat sederhana: "Ya Allah, hari ini aku ingin lebih tenang, damai dan bahagia."

This simple habit helps me reconnect with my soul. Jurnaling membuat aku lebih aware dengan emosi ku, lebih lembut pada diri sendiri, dan lebih jujur tentang apa yang sebenarnya aku butuhkan. In a world that constantly asks us to be strong, journaling allows me to be soft.

Movies Time: Healing with Stories

After a long day, my other favorite me time is watching movies. Kadang Netflix, kadang VIU atau kadang Disney Channel. I Know, it sounds simple, but it works.  Aku biasanya memilih film romantic comedy yang ringan atau drama Korea dengan cerita hangat dan visual yang menenangkan. Ngga jarang juga sih nonton drama Cina atau bahkan juga India ..hahahaha....

Ada sesuatu healing dari melihat kisah cinta sederhana, keluarga dan perjalanan hidup orang lain. Menonton drama Korea sambil rebahan is my version of self-care. It reminds me that life doesn't always have to be rushed. Kadang, aku tertawa sendiri. Kadang, aku menangis pelan. And both are okay.

Me Time sebagai Bentuk Syukur

Buatku, me time bukan bentuk pelarian dari tanggung jawab, tapi justru cara untuk kembali dengan energi yang lebih utuh. Ketika aku menjaga diriku, aku bisa lebih hadir untuk keluarga, bisnis dan orang-orang yang aku layani.

Sebagai muslimahpreneur, aku percaya bahwa merasa hidup bukan tentang doing more, but about feeling deeper. Dengan jurnaling dan Netflix time, aku belajar mencintai proses, menikmati jeda dan mensyukuri setiap fase kehidupan.

Because at the end of the day, a calm heart is also a success 🤍






4 Circle Pertemanan dalam Hidup ku: Antara Persahabatan, Bisnis dan Jannah Goals

Tidak ada komentar

 

4 Circle Pertemanan dalam Hidup ku: Antara Persahabatan, Bisnis dan Jannah Goals


Assalamualaykum,

Berjalan di fase hidup saat ini, I realize one thing: hidup terasa jauh lebih kaya bukan karena banyaknya pencapaian, tapi karena siapa saja yang berjalan bersama kita. As a muslimahpreneur juggling several business and my role as a blogger, I'm blessed to have empat circle pertemanan yang masing-masing memberi warna berbeda dalam hidupku.

Circle pertama adalah sahabat aku di Junior Middle School friends. Mereka adalah saksi versi diriku yang paling polos, paling jujur dan penuh tawa tanpa beban. Setiap bertemu, rasanya seperti time travel, kembali ke masa di mana masalah hanya soal PR belum selesai. Dari mereka, aku belajar tentang loyalty and unconditional friendship. No matter how far life takes us, hati kami tetap saling terhubung.

Lalu ada circle High School Best Friends, yang tumbuh bersama di masa pencarian jati diri. This circle reminds me of dreams, ambitions, and the courage to start. Kami sering berbagi cerita tentang keluarga, putus cinta zaman sekolah dulu, anak, karier dan perjalanan hidup yang tidak selalu mulus. Di sini aku belajar empati dan respect each other, bahwa setiap orang punya timeline-nya sendiri.

Circle ketiga adalah circle sahabat muslimah. this one feels like a spiritual recharge. Kami saling mengingatkan tentang iman, adab dan tujuan hidup. Obrolan kami sering berujung pada refleksi: sudah sejauh mana kita berjalan menuju Allah? Dari circle ini, aku belajar no judging person, karena setiap hari sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Circle aku ini menenangkan, grounding and healing.

Terakhir, circle teman sharing bisnis. This is where growth happens intensely. Diskusi strategi, sharing peluang sampai brainstorming ide sering membuka wawasan baru. Rezeki feels wider when networking is built with sincerity. Dari circle ini, aku belajar bahwa kolaborasi jauh lebih indah daripada kompetisi, dan mindset positif benar-benar menentukan arah bisnis.

Of course, every blessing comes with small challenges. Dukanya, sometimes ada argumen kecil ketika bertemu, tapi never significant enough to break the bond. When schedules get packed, I do feel overloaded. And yes, kadang terlalu banyak insight datang bersamaan, making me pause and choose again: mana yang paling selaras untuk dijalankan, baik untuk kehidupan pribadi maupun bisnis.

Namun manfaat memiliki circle pertemanan jauh lebih besar. Secara prikologis, it helps reduce stress. Ada tempat berbagi, tertawa, kuliner bareng bahkan menangis tanpa dihakimi. Having friends who listen is a form of rezeki that money can't buy.

Seiring bertambahnya usia, aku tidak lagi ingin memiliki terlalu banyak circle. Wisdom teaches me to choose quality over quantity. Pertemanan yang membawa kita lebih dekat pada Allah, lebih bertumbuh dalam bisnis dan lebih damai dalam hidup, itulah yang ingin aku jaga. Because at the end of the day, tujuan kita bukan sekadar sukses di dunia.

Jannah is the goals dan harapan ku circle yang ada hari ini, adalah bagian dari jalan indah menuju-Nya 🤍





My Reading Commitment This Year: Feeding the Mind and the Soul

Tidak ada komentar

 



Assalamualaykum,

Bismillah. Tahun ini aku ingin lebih intentional dengan hidup. Bukan hanya soal business goals, travel schedule, atau launching produk baru, tapi juga tentang what I feed my mind and soul. Sebagai seorang muslimahpreneur yang sehari-harinya juggling antara bisnis travel haji umroh, wisata halal, modest fashion, healthy drink dan menulis blog, membaca adalah one of my quiet luxuries. A small pause in a busy day, yet powerful enough to realign my heart.

This year, I set a simple but meaningful target: 4 buku untuk dibaca secara konsisten. Sounds simple, right? But for me, it's not about quantity, it's about presence.

Yang pertama tentu saja Al-Qur'an. I know, technically it's not a book, tapi a holy scripture that guides my entire life. Tahun 2024 aku bisa khatam 5 kali dalam setahun. Masya Allah, I was so proud of that. Tapi jujur, tahun 2025 menurun drastis, hanya 2 kali khatam. 

Sedih? Iya banget. Karena itulah, tahun ini aku menargetkan minimal 3 kali khatam, dengan doa besar semoga bisa 4 kali atau lebih. Al-Qur'an is not just something to finish, but something to live with. Every Ayah feels like a personal reminder when read with a calm heart.

Buku kedua adalah "Taman Cinta" karya Khalil Gibran. I've loved his works since high school. There's something about his romantic, poetic sentences that feels timeless. Kalimat-kalimatnya sejuk, gentle dan seperti pelukan hangat untuk jiwa yang lelah. When life feels loud, meeting here, deadline there, Gibran reminds me to slow down and feel.

Next is "Why The Rich Are Getting Richer" by Robert T Kiyosaki. This one is more practical, more "business minded". I want to reread and refresh my understanding about business, investing and building income streams. As someone who runs multiple businesses, I believe revisiting fundamental is important. Sometimes we don't need new knowledge, we just need to remember what we already know but forgot to apply.

The fourth book is "Don't Sweet the Small Stuff in Love" by Richard Carlson, Ph.D. and Kristine Carlson. This book gently reminds us not to make small issues a big deal i relationship. As a wife partner, and woman who wears many hats, this book feels like a soft whisper: choose peace, choose understanding.

So how do I stay committed? This is my way:
  1. Read Al-Qur'an after every sholat, minimum 5 ayah. Small but consistent.
  2. Rotate the other three books, so I don't get bored. I pause after an interesting chapter, then move to another book.
  3. Always bring a book in my bag, especially when I know there will be waiting time during trips.
  4. Use cute and meaningful bookmarks. Yess, this matters more than people think.
  5. Journal every morning before work, writing down quotes or insight. It makes me more excited to read and more mindful in journaling.

Bismillah, semoga bisa komitmen. Because reading, for me, is not an escape. It's a return. Back to purpose, faith, and calmer version of myself.






5 Places That Heal My Soul When Burnout Hits

Tidak ada komentar

 

5 Places That Heal My Soul When Burnout Hits


Sebagai seorang muslimahpreneur yang menjalani beberapa bisnis, burnout is not a stranger to me. Add to that my role as a blogger who loves to share daily journey, reflections and behind the scenes of life, sometimes my mind feels too full and my heart needs a pause.

Over time, I realized that healing doesn't it always mean stopping completely. Sometimes, it means changing places. These are the five place that always inspire me, calm me, and gently remind me of who I am and why I started.

1. A Cozy Cafe 

Cafe is my space. Not the noisy one, but a calm corner cafe where the aroma of coffee feels like a warm hug. I usually order a cup of coffee or warm chocolate milk, paired with a small snack, nothing fancy, just comforting.

Di sini, aku bisa membuka laptop dengan tenang. Sometimes I write a blog post, sometimes I reply emails, or simply reorganize my thoughts. The soft background music and gentle clinking of cups somehow slow my racing mind. Cafe moments remind me that productivity doesn't have to feel rushed. It can be soft, mindful and enjoyable.

2. Perpustakaan 📚

There is something magical about libraries. The silence, the smell of books, and the feeling of being surrounded by knowledge instantly calm me down.

Di perpustakaan, aku sering membaca novel luar negeri untuk refreshing dan membantu pembendaharaan kosakata aku dalam berbahasa Inggris. Kadang aku baca buku tentang fashion, branding dan business motivation. Reading helps me escape pressure while still growing. It's like resting, but smarter. Libraries remind me that growth can be quiet and elegant, not always loud or competitive.

3. Mekkah dan Madinah 🕋

This is where my soul truly breathes.

Saat berada di Mekkah dan Madinah, aku tetap seorang businesswoman, but only 20%. The remaining 80% is a servant, a daughter of Allah who comes with stories, worries, gratitude and tears.

Umroh is my deepest therapy. I curhat to Allah about anything, like business decisions, exhaustion, fears, and dreams. The atmosphere teaches me perspective: that no matter how big my workload feels, it is still small compared to the purpose of life. Di sini burnout berubah menjadi tawakal.

4. My Parents' House 🏡

Pulang ke rumah orang tua is like pressing a reset button.

chit chat tipis-tipis dengan Mama, sharing hal-hal kecil yang ternyata berarti. Sometimes laughing with siblings, sometimes just sitting together without talking much. Di rumah ini, aku bukan CEO, bukan founder, bukan blogger. I am simply "anak rumah".

This place reminds me that love doesn't require achievements. Just presence.

5 Pantai 🌊

The beach is where my thoughts dissolve.

Menikmati angin pantai, suara deburan ombak dan langit yang luas make me feel small in a good way. The ocean teaches patience and consistency. Waves come and go, just like a problems.

Di pantai, aku belajar bahwa burnout is not a failure. It's a signal to pause, breathe and realign.

These five places shape my healing journey. They remind me that a muslimahpreneur can be ambitious and soft at the same time. And when burnout comes again (as it always does), I know exactly where to go 🤍.




Terlihat Kecil Tapi Sangat Menolong, Penolong Tidak Terduga dalam Perjalanan Bisnis

Tidak ada komentar

 

Terlihat Kecil Tapi Sangat Menolong, Penolong Tidak Terduga dalam Perjalanan Bisnis


Menjadi seorang Ibu sekaligus pengusaha memang bukan hal yang mudah. Rasanya seperti menyeimbangkan piring di satu tangan dan menggendong anak di tangan lainnya - selalu ada tantangan baru. Di tengah kesibukkan mengurus rumah tangga, mendampingi anak dan memikirkan strategi bisnis, terkadang kita merasa lelah dan sendiri.

Mulai berbisnis itu seperti roller coaster, kadang di atas, kadang di bawah. Sebagai seorang Ibu yang merintis berbagai usaha, dari minuman kesehatan madu AHP, travel haji umrah BTravel, sampai brand fashion modest House of Aisy, aku tahu betul rasanya. Ada hari-hari di mana semuanya lancar, tapi ada juga saat-saat di mana rasanya buntu dan ingin menyerah. Nah, di momen-momen inilah, aku sering bertemu dengan penolong tidak terduga.

Menghargai Bantuan yang Tidak Terduga

Mungkin bagi sebagian orang, bisnis itu soal angka, strategi atau modal besar. Tapi bagi saya, bisnis itu juga soal manusia. Ada kalanya kita butuh bantuan, dan bantuan itu datang dari orang-orang yang seringkali tidak kita duga. Mereka mungkin bukan investor besar atau mentor terkenal, tapi kehadiran mereka sangat membantu.

Aku ingat, saat awal-awal merintis Azzahra Honey Premium (AHP), aku masih mengemas madu sendiri di rumah. Waktu itu, pesanan sedang banyak-banyaknya. Aku kewalahan, mulai dari menyiapkan botol, menimbang madu, sampai menempelkan label.

Sampai suatu hari, ada kenalan dari networking aku yang kebetulan tinggalnya tidak jauh dari rumah aku menawarkan diri untuk membantu menempelkan label. Aku awalnya ragu, tapi beliau bilang, "Sudah, jangan sungkan. Aku juga senang kalau bisa bantu-bantu."

Bantuan itu kelihatannya sepele ya? Cuma menempel label. Tapi dampaknya luar biasa. beban aku jadi berkurang, pesanan bisa selesai tepat waktu, dan aku merasa tidak sendirian. Ibu itu menjadi penolong tidak terduga yang mengajarkan aku bahwa kebaikan kecil bisa memberikan dampak besar. Ia tidak meminta bayaran, ia hanya ingin membantu. Bantuan tulus seperti ini adalh inspirasi bisnis yang paling nyata.

Dari Kisah Kecil Menjadi Pelajaran Berharga

Pengalaman serupa juga aku temui saat mengembangkan BTravel. Waktu itu, aku dan Pak Suami sedang mengurus visa untuk calon jamaah umrah. Ada satu dokumen yang nyangkut dan sulit sekali diurus. Kami sudah bolak balik ke kantor terkait, tapi selalu mentok. Aku merasa putus asa. 

Lalu, seorang petugas keamanan di sana, yang sering aku sapa, menghampiri. Dia bertanya ada apa. Aku ceritakan masalahnya. Tanpa disangka, ia memberi tahu trik kecil untuk mempercepat prosesnya, sesuatu yang tidak kami ketahui. Dengan petunjuknya, masalah itu akhirnya selesai.

Lagi-lagi, ini bukan bantuan dari orang "penting". Ia hanya seorang petugas keamanan yang ramah. Tapi berkat kebaikan dan pengamatannya, masalah kami selesai. Ini mengajarkan aku bahwa networking tidak hanya dengan pebisnis lain, tapi juga dengan setiap orang yang kita temui. Kita tidak pernah tahu, siapa yang akan menjadi penolong kita di masa depan.

Dalam dunia fashion modest, kisah serupa juga terjadi. Saat aku meluncurkan koleksi pertama untuk fashion show perdana aku, seorang pelanggan setia aku datang dan dengan jujur memberi masukan tentang bahan dan ukuran. Awalnya aku sedikit tersinggung, tapi setelah aku pikirkan, ia melakukannya karena pedulu. Ia bukan hanya pelanggan, tapi juga seorang penolong tidak terduga yang membantu aku meningkatkan kualitas produk.

Kunci Sukses Bukan Hanya Soal Diri Sendiri

Dari pengalaman ini, aku menyadari satu hal sukses dalam bisnis tidak bisa dicapai sendirian. Kita butuh tim, mitra, dan yang tidak kalah penting, penolong-penolong tidak terduga itu. Mereka adalah pelanggan yang jujur, tetangga yang tulus membantu, atau bahkan orang yang kita temui di jalan.

Mengapa mereka mau membantu? Karena kita membangun hubungan yang baik. Kita tidak memandang rendah siapapun, kita bersikap ramah, dan kita menghargai setiap orang. Sikap ini menciptakan lingkungan positif di sekitar kita. Ketika kita membutuhkan, orang-orang ini dengan senang hati akan datang. Ini bukan soal memanfaatkan, tapi soal saling bantu dan menguatkan.

Sebagai seorang Ibu, aku juga mengajarkan hal ini pada anak-anak aku. Bahwa kebaikan kecil bisa berdampak besar. Sama seperti produk madu AHP yang meski kemasannya kecil, tapi manfaatnya luar biasa. Atau perjalanan umrah bersama BTravel yang mungkin terasa singkat, tapi makna spiritualnya seumur hidup.

Jadi, jika saat ini kamu sedang berjuang, jangan merasa sendirian. Buka mata dan hati. Mungkin saja penolong tidak terduga itu sudah ada di dekatmu, siap untuk membantu. Hargai setiap bantuan yang datang, sekecil apapun itu. Karena di situlah letak kekuatan sejati dari bisnis yang humanis, yaitu saling menolong dan berbagi kebaikan.



Pesona Malam Kuala Lumpur di Tapak Urban Street Dining

Tidak ada komentar

 

Pesona Malam Kuala Lumpur di Tapak Urban Street Dining


Assalamualaykum,

Perjalanan bisnis sering kali menuntut fokus dan profesionalisme, namun ngga jarang juga aku sempatkan untuk menikmati hal-hal kecil yang membuat sebuah kota di negara yang aku kunjungi terasa istimewa. Salah satunya saat aku bisnis trip ke Kuala Lumpur.

Kebetulan bisnis fashion aku bekerja sama dengan store di Kuala Lumpur yang menuntut aku untuk beberapa kali bolak balik ke negara ini. Biasanya setelah seharian penuh berinteraksi dengan mitra dan menghadiri pertemuan, malam hari menjadi momen yang aku nantikan untuk bersantai dan menjelajah sisi lain dari ibu kota Malaysia ini.


Pernah suatu waktu, aku pilih hotel untuk menginap selama bisnis trip aku adalah di sekitar Pavilion Kuala Lumpur dan Starhill Gallery. Ngga jauh dari situ ada tempat yang katanya sangat populer di kalangan anak muda dan pecinta kuliner, yaitu Tapak Urban Street Dining
Lokasinya bisa dibilang strategis dan ngga jauh sih dari Menara Kembar Petronas. 

Waktu tiba di lokasi, serasa disambut oleh suasana yang begitu hidup dan dinamis. Kira-kira ada mungkin ya puluhan orang kesini di malam itu, baik turis maupun penduduk lokal, berbaur di area terbuka yang dipenuhi oleh food truck berwarna warni.

Lampu-lampu hias berkelap-kelip, menciptakan suasana yang hangat dan meriah. Aroma sedap dari berbagai jenis makanan dari mau masuk areanya saja sudah ke cium lho. Makanya hal ini yang tadi aku bilang, serasa disambut dan bikin kita jadi ingin segera menjelajahi setiap sudutnya.

Kira-kira cepat dapat makan? Tentu tidak 😀😀.... Padahal perut sudah lapar, tapi tetap saja kaki ini melangkah melihat satu persatu food truck yang ada disana, sambil pilih-pilih mau makan apa dan endingnya jadi bingung sendiri mau nentuin mau makan yang mana.

Makanan disini beragam, mulai dari sate, nasi lemak, kebab, duren, hingga aneka pasta, burger dan makanan western lainnya. Akhirnya aku mutusin untuk coba beberapa hidangan lokal yang paling otentik. Tentu aku pilih nasi lemak dengan ayam gorengnya yang renyah. Rasa sambal yang pedas manis berpadu sempurna dengan gurihnya nasi dan ayam, sebuah kombinasi yang sungguh memanjakan lidah.

Lanjut aku ke food truck sebelahnya dan pesan sate ayam dan sate daging yang disajikan dengan kuah kacang kental. Dagingnya empuk dan bumbu marinasinya meresap sempurna. Kok jauh-jauh ke KL tapi pesannya sate? Eits..., satenya beda guys dari yang di Indo. 

Sambil menikmati hidangan, aku duduk di salah satu meja di dekat panggung live music. Di Tapak Urban Street Dining ada live music yang dibawakan oleh para musisi jalanan, tentunya menambah syahdu suasana. Memang kalau di lihat sih suasananya ngga jauh beda ya dengan suasana di Gading Serpong - Karawaci, yang kebetulan aku tinggal di antara Gading Serpong dan Karawaci.


Yang bikin ngga terlalu beda adalah rata-rata di Tapak Urban selain orang Malay juga cindo-cindo. Tahu dong ya di Gading Serpong - Karawaci juga area cindo-cindo 😁.  Tapi vibesnya tetap sih bagi aku beda saja karena aku bisa merasakan pengalaman sosial yang otentik, dimana kita bisa melihat kehidupan malam di Kuala Lumpur dari sudut pandang yang berbeda.

Saat aku akan meninggalkan lokasi, aku janji kalau pas ke KL lagi, aku mau mampir kesini lagi. Pengalaman ini mengajarkan aku bahwa di tengah kesibukan perjalanan bisnis, penting untuk meluangkan waktu untuk menikmati hal-hal sederhana yang membuat sebuah kota memiliki jiwa.

Tapak Urban Street Dining bukan hanya tempat makan, melainkan sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman kuliner malam yang tidak terlupakan di jantung kota. Sebuah tempat yang aku ingin kembali lagi kesini.




Makna Sejati Kesuksesan. Lebih dari Sekadar Angka di Rekening

Tidak ada komentar

 

Makna Sejati Kesuksesan. Lebih dari Sekadar Angka di Rekening


Aku sering merenung tentang apa sebenarnya arti kesuksesan. Dulu mungkin aku berpikir bahwa sukses itu identik dengan seberapa besar omset perusahaan, berapa banyak aset yang berhasil aku kumpulkan atau seberapa tinggi jabatan yang aku pegang. Namun seiring berjalannya waktu dan berbagai pengalaman yang aku alami, pandangan aku tentang kesuksesan mulai meluas.

Kita ini hidup di dunia yang seringkali mengukur kesuksesan atau keberhasilan dari pencapaian materi. Seolah-olah, semakin banyak nol di belakang angka di rekening bank atau semakin ber-merk pakaian atau mobil yang di kenakan dan digunakan, maka itulah puncak kesuksesan. Padahal, jika kita mau melihat lebih dalam, makna kesuksesan jauh lebih kaya dan multidimensional dari itu.

Bagi aku dan mungkin saja bagi teman-teman yang memiliki bisnis, kesuksesan itu adalah tentang ketahanan. Bayangin deh berapa banyak badai yang sudah kita lewati? Berapa banyak keraguan yang berhasil kita tepis?

Kita bisa sukses bertahan sejauh ini dengan segala jatuh bangun dan bangkitsetelah terjatuh, setiap kali kita menemukan solusi di tengah kebuntuan, itulah manifestasi dari kesuksesan yang sesungguhnya.

Kesuksesan juga hadir dalam dampak baik yang kita berikan. Seperti yang aku rasakan saat tahu, produk minuman kesehatan aku yaitu AHP (Azzahra Honey Premium) bisa membantu banyak orang sembuh dari penyakit yang di deritanya (seperti kolesterol, asam urat sampai stroke). Belum lagi bisnis travel haji umrah aku yang ternyata bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Hal hal tadi itulah yang ternyata bagi aku sebuah kesuksesan yang melampaui angka-angka, kesuksesan yang beresonansi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan membuat kebahagiaan sejati muncul di hati.

Kemudian ada juga kesuksesan dalam kemudahan urusan. Ini mungkin terdengar sepele, tapi coba deh renungkan. Ketika kita bisa menyelesaikan berbagai kewajiban dengan lancar, baik itu urusan pekerjaan, keluarga atau bahkan hal-hal kecil sehari-hari, itu adalah sebuah bentuk kesuksesan.

Memiliki networking dengan orang-orang penting, beberapa orang dari networking kita mengenal diri kita adalah pribadi yang baik, santun dan solehah, bagi aku pribadi hal ini juga merupakan sebuah definisi sukses juga.

Sukses tentang proses belajar dan bertumbuh. Setiap tantangan yang kita hadapi, setiap kesalahan yang kita buat adalah pelajaran berharga yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mampu beradaptasi, berinovasi dan terus belajar dari setiap pengalaman adalah kesuksesan yang berkelanjutan.

Jadi yuk mari kita perluas lagi perspektif tentang apa itu sukses. Ini bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian finansial kita, tetapi juga seberapa besar dampak positif yang kita berikan, seberapa tangguh kita dalam menghadapi badai, seberapa baik kita dalam mengelola hidup dan seberapa banyak kita berkembang sebagai seorang individu. 

Kesuksesan itu adalah sebuah perjalanan yang kaya akan makna dan setiap langkah kecil di dalamnya patut untuk dirayakan.