Memori Ku Ketika Curhat Di Buku Diary

Tidak ada komentar

 

Memori Ku Ketika Curhat Di Buku Diary


Assalamualaikum,

Tidak terasa ya, akhir tahun tinggal menghitung hari. Teman-teman sudah belum menyusun yang namanya resolusi? Resolusi tahun 2022 ini kira-kira sudah berapa persen tercapainya? Biasanya resolusi yang sudah teman-teman buat, di share tidak di sosial media atau hanya di keep saja di buku Diary atau Jurnal?

Ngomongin buku Diary, memang masih ada kah yang nulis buku Diary sebagai tempat curhat? Jadi ingat zaman aku SD dan SMP dulu. Dimana Diary adalah sahabat terbaik aku dikala itu. Sahabat masa puber aku dan sahabat tempat mendengar segala curhatan hati ini. 

Diary itu ngga pernah ngeluh karena di curhatin mulu dan ngga pernah kasih komentar ke aku masalah apa yang sedang aku alami. Pokoknya benar-benar pendengar setia, mau aku bahagia dan nulis ya sambil ketawa-ketawa atau mau aku lagi sedih dengan nulis sambil keluar air mata hehehe.

Bukan berarti sih aku ngga punya sahabat, tapi tetap saja sih bagi aku buku Diary is the one and only my best friends pokoknya di kala itu.

Senang banget dulu tuh koleksi buku Diary yang lucu-lucu dan girly. Semua buku diary yang aku punya, aku pilih buku Diary yang pakai kunci, jadi ngga ada yang bisa baca isinya kecuali aku. Sekarang sudah ngga tahu deh itu buku Diary kemana.

Kalau di kumpulan, bisa kali ya untuk naskah sinetron atau buat versi karya drama Koreanya ehehe. Dulu memang belum ada sosial media dan dunia digital masih belum berkembang seperti sekarang. Mungkin anak gen Z sudah ngga butuh lagi yang namanya buku Diary kali ya saat ini.

Rata-rata anak zaman now curhatnya di sosial media dan kadang termasuk aku juga sih ketika awal kenal dunia blogging. Tahun 2010 pertama kali buat blog itu ya sebagai tempat curhat. Apa saja di tulis di blog dan aku sadar kalau blog itu mau tidak mau ya di konsumsi oleh publik.

Walau tahun 2010 dunia blogging dan sosial media tuh belum se-hype sekarang. Alhamdulillahnya aku sadar bahwa ngga bagus nulis yang jelek-jelek di sosial media, sebab jejak digital itu tidak bisa dihapus. Mending curhatnya sekarang sama Allah saja. Dosa kita tuh bisa di hapus sama Allah dan Allah sebaik-baiknya tempat curhat dan menyimpan segala aib kita.

Tapi ya sekarang pun juga kaya ngga punya waktu saja sih mau nulis curhat-curhat gitu di Diary (kalau masih ada buku Diary). Waktunya sudah tergerus sama urusan anak-anak, suami, rumah, social life dan sibuk sama urusan bisnis.

Kalau ada waktu juga pasti yang dipikirin adalah konten positif apa ya hari ini yang harus di share? Mau jadi manusia yang menyebar positive vibe dan bermanfaat… Aseeekkk….

Iya dong harus, sebab semakin dekat dengan Allah, akan semakin takut menyebar hal-hal negatif, biar ngga berat pertanggung jawabannya nanti di akhirat.

Duh, tulisan kali ini random sekali ya, beda dari biasanya. Dari awal mau bahas mengenai resolusi, eh malah jadi ke buku Diary. Next kita bahas lagi saja ya soal resolusi…Have a good day semua.









Ceritakan media lain untuk curhat. Kalau ada diary, bisa fotokan 

ODOP 4 Des

Tidak ada komentar