Ada satu aroma yang selalu bisa membawa aku kembali ke masa lalu... the smell of Ayam Bakar. Bukan sekedar ayam bakar biasa, tapi Ayam Bakar buatan Papa. with that signature Gorontalo spices, rich slightly sweet, and keep deeply comforting.
Setiap kali aku mencium aroma rempah yang terbakar di atas bara api, rasanya seperti dipeluk oleh kenangan. Papa selalu punya cara spesial dalam meracik bumbu. "Ini bukan cuma masakan, ini rasa," kata beliau dulu. Dan memang benar, karena Ayama Bakar Papa bukan hanya tentang rasa di lidah, tapi juga rasa di hati.
The Beginning: A Small Resto Kios, Big Dreams
Tahun 2010 sampai 2012, we decided to turn that love into a small business. Kami buka kios sederhana di sekitar BSD Tangerang dengan nama restonya: "Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo". Ngga terlalu besar, tapi selalu ramai. Alhamdulillah, peminatnya banyak. Bahkan sering kehabisan sebelum waktu tutup. Banyak pelanggan yang balik lagi karena katanya "beda banget rasanya...".
Ayam Bakar kami punya ciri khas bumbu rempah khas Gorontalo yang kuat, tapi tetap ada sentuhan manis yang lembut. It was comfort food, but also something unique. Tapi di balik ramainya mini resto di kios itu, ada cerita lain yang ngga banyak orang tahu.
The Hard Truth About Business: It's Not Always About Profit
Banyak orang pikir kalau bisnis tutup itu karena rugi. But in our case, it wasn't. Kami justru tutup saat kondisi lagi bagus. Maslahnya ada di SDM (Sumber Daya manusia). Pegawai sering keluar masuk, sulit mencari yang benar-benar bisa dipercaya dan konsisten. lama-lama, aku dan Papa mulai lelah.
Managing people is sometimes harder than managing the business itself.
Akhirnya, dengan berat hati... kami memutuskan untuk tutup. Banyak yang menyayangkan, bahkan sampai sekarang masih ada yang tanya, "Kapan buka lagi?"
Dan setiap kali ditanya itu... ada rasa hangat sekaligus sedih di hati.
Restarting the Journey: The Digital Era
Tahun 2017, saat platform seperti GoFood dan GrabFood mulai booming, aku mulai berpikir... maybe it's time to try again. We didn't open mini resto at kios this time. Kami mulai daru rumah.
Aku jualan dari rumahku dan Papa Mama juga dari rumah mereka. Simple, lebih manageable dan tetap bisa menjaga kualitas rasa dan ternyata... still works!
Pelanggan lama Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo kembali, pelanggan baru pun berdatangan. It Felt like the past came back, but in a different form. Kami jalani bisnis ini sampai sekitar tahun 2020.
When Life Happens...
Pandemi datang dan semua berubah. Papa saat itu kena Covid. It was one of the hardest moments in our lives. Tanpa banyak pertimbangan, kami memutuskan untuk stop jualan. Fokus kami hanya satu yaitu kesehatan Papa. Dan sejak saat itu, kami belum pernah benar-benar memulai lagi.
A Recipe That Lives in the Heart
Tahun 2024, Papa berpulang 😢😢.
Dan sejak itu, setiap kali aku mendengar kata Ayam bakar, hatiku langsung penuh. Bukan hanya karena rasanya, tapi karena semua kenangan di baliknya.
Resep itu masih ada. Aku dan adik-adik juga membuatnya. The spices, the technique, the process... semuanya masih kami ingat.
But Somehow, it's not just about cooking. Ada rasa yang belum siap untuk dihidupkan kembali. Karena bagi kami, ayam bakar itu bukan sekedar makanan. Itu adalah simbol cinta, perjuangan dan kebersamaan dengan papa.
Maybe... Someday
Kadang aku berpikir, mungkin suatu hari nanti, the heart is ready, kami akan mulai lagi. Bukan hanya untuk bisnis, tapi untuk menjaga warisan. Untuk mengenang Papa, dengan cara yang paling beliau cintai.
Cooking!
Untuil then, biarlah ayam bakar itu tetap hidup di hati kami. A quiet legacy, wrapped in spices, sweetness and love.
Insha Allah, Someday... we will bring Ayam Bakar Opa Khas Gorontalo back to life 💕💕


Tidak ada komentar