I find peace in a quiet corner at home, my mini library. It's not a big room, just a cozy space, my working room with a white and light wood desk, a small bookshelf and soft natural light. But trust me, it holds stories, ilmu and reflections that shape my journey every single day.
Honestly, building this mini library wasn't something I planned from the beginning. It started from "just buying books" 😀, self development, digital marketing, business strategy, motivation, novel, sampai buku kerajinan tangan seperti menjahit, payet, dan DIY. Lama-lama, koleksi makin bannyak and I realized, I needed a system.
My Book Collection: A Reflection of My Journey
Kalau dilihat sekarang, koleksi buku aku itu sangat "me banget" dan koleksi aku mix ada yang Bahasa Indonesia juga ada yang English Book, there are:
- Self development books (because growth is a lifelong jorney)
- Digital Marketing & business (essential for my entrepreneur life)
- Motivation & mindset
- Crafting & DIY books (my creative escape)
Setiap buku punya cerita. Ada yang aku beli saat lagi semangat belajar bisnis, ada juga yang menemani di perjalanan panjang syiar Baitullah.
But here's the truth... Not all books are fully read. Yes, I said it and I'm sure you can relate too.
Kadang kita beli buku karena excited, tapi waktu belum sempat. Dulu aku merasa "guilty" soal ini. Tapi sekarang, I see it differently. Buku itu bukan lomba asiapa yang paling cepat selesai, tapi tentang kapan kita siap menyerap isinya.
How I Sort My Mini Library
Seiring waktu, aku mulai membuat sistem sederhana untuk memilah buku. This changed everything.
1. Books I Have Finished Reading
Ini adalah uku-buku yang sudah aku baca sampai selesai dan benar-benar aku pahami. Biasanya aku tandai dengan sticky notes atau higlight.
Dari kategori ini, aku akan pilih:
- Buku yang ingin aku simpan (because I will re-read them)
- Buku yang bisa aku share ke orang lain.
Aku percaya ilmu itu akan lebih berkah kalau dibagikan
2. Books That Are Still "In Progress"
Ini buku-buku yang belum selesai dibaca. Aku tidak memaksakan diri untuk langsung selesai. Instead, I create a reading mood system:
- Lagi butuh motivasi --> baca buku mindset
- Lagi fokus bisnis --> baca digital marketing
- Lagi santai --> baca DIY
This way, membaca jadi lebih natural dan enjoyable
3. Outdated Books (Especially Digital Marketing)
Nah, ini penting banget. Dunia digital marketing itu cepat sekali berubah. Buku yang relevan 3-5 tahun lalu, bisa jadi sudah tidak applicable sekarang. Biasanya aku akan:
- Review ulang isi bukunya
- Ambil insight yang masih relevan
- Let it go
Aku biasanya memberikan buku ini ke teman atau aku preloved itu buku hehehe. Because even outdated knowledge can still be a starting point for someone.
Do I Keep All My Books? No
Dulu aku berpikir semua buku harus disimpan. Tapi sekarang, I choose intentionally. Aku selalu tanya ke diri sendiri:
- Apakah buku ini masih relevan dengan hidupku sekarang?
- Apakah aku akan membacanya lagi?
- Apakah orang lain bisa mendapatkan manfaat lebih dari buku ini?
Kalau jawabannya "no", then it's time to release it. Minimal setiap 6 bulan sekali aku lakukan "mini library detox"
My Mini Library Management Plan
Supaya tidak berantakan lagi, aku sekarang punya sistem sederhana yang sangat membantu.
1. Categorize by Topic. Aku pisahkan rak berdasarkan kategori: Self development, business and marketing, Creative and DIY. This makes it easier to find what I need.
2. One in, One Out Rule. Setiap beli buku baru, aku akan mempertimbangkan untuk melepas satu buku lama. It keeps my collection fresh and intentional.
3. Monthly Reading Intention. Setiap bulan, aku pilih 2-3 buku untuk difokuskan. Tidak banyak, tapi konsisten.
4. Sharing is Part of the System. Aku jadikan "memberi buku" sebagai bagian dari sistem, bukan sekedar decluttering. Ada rasa bahagia yang berbeda saat melihat buku kita bermanfaat untuk orang lain.
My Reflection
Mini library ini bukan sekedar tempat menyimpan buku. It's a space growth, reflection and barakah. Di sela-sela kesibukan sebegai entrepreneur, duduk sebentar di ruang kecil ini, membuka buku, dan merenung, rasanya seperti recharge energy.
And I realize something important: We don't need a big library to have a meaningful one.
Yang penting bukan seberapa banyak bukunya, tapi: seberapa dalam kita memahami isinya, seberapa bijak kita memilih dan seberapa ikhlas kita berbagi. Because knowledge grows when it flows.
Kalau kamu punya mini library juga di rumah, tell me. Are you a book keeper or a book giver?

Tidak ada komentar