Networking Lessons from Gen Z

Tidak ada komentar

 

Networking Lessons from Gen Z


I have always believed bahwa networking adalah salah satu kunci utama dalam bertumbuh. Tapi jujur saja, cara aku membangun relasi dulu sangat berbeda dengan apa yang aku lihat sekarang, especially dari Gen Z.

And yes, one of my biggest teachers is...my own child 😊. Anak sulung aku yang saat ini masih kuliah, tapi sudah mulai merintis bisnisnya sendiri. Watching his journey feels like opening a new window. Cara dia connect, engage dan build trust dengan orang lain itu fresh banget.

1. Authenticity is the New Currency

Kalau dulu kita diajarkan untuk selalu "formal" dalam berjejaring. Gen Z malah sebaliknya. They show up as they are. Aku melihat anakku tidak takut untuk menjadi diri sendiri di depan calon partner bisnis. He shares his journey, struggles, bahkan hal-hal kecil yang relatable. and suprisingly, that builds stronger connections.

Lesson learned: Networking bukan soal terlihat "sempurna", tapi soal menjadi real dan relatable

In my own experience, ketika aku mulai lebih open saat sharing di komunitas Gen Z, terutama dalam bidang bisnis (karena aku lebih sering di undang jadi narasumber untuk sharing seputar bisnis), malah responnya lebih hangat. Mereka connect dengan cerita, bukan hanya pencapaian.

2. Digital Networking is Not Optional, It's Essential

Gen Z hidup di dunia digital and they maximize it. Anakku bisa dapat peluang kolaborasi hanya dari DM Instagram atau LinkedIn. He builds relationships not only offline, but consistently online. 

Aku jadi tersadar, bahwa sebagai business owner, kita tidak bisa hanya mengandalkan networking konvensional seperti event atau seminar.

Lesson learned: Your Digital presence is your new business card.

Sekarang aku pun mulai lebih aktif membangun personal branding, sharing daily life sebagai muslimahpreneur, perjalanan umroh hingga behind the scene bisnis, and it works.

3. Community Over Competition

Ini yang paling aku kagumi. Gen Z sangat kuat dalam membangun komunitas. Aku beberapa kali diundang sebagai pembicara di komunitas yang mayoritas Gen Z. Yang aku lihat bukan persaingan, tapi kolaborasi. Mereka saling support, share resources, bahkan promote each other.

It's not "me vs you" anymore. It's "Let's grow together."

Lesson learned: Networking terbaik bukan sekedar menambah kontak, tapi membangun ekosistem.

Ini mengingatkan aku bahwa dalam bisnis travel atau modest fashion, kolaborasi bisa jauh lebih powerful daripada berjalan sendiri.

4. Value First, Then Relationship

Gen Z tidak suka Hard Selling dan ini sangat terasa. Anakku selalu fokus pada bagaimana dia bisa memberikan value terlebih dahulu. Entah itu melalui konten, insight atau bahkan sekadar membantu orang lain connect ke orang yang tepat.

Without realizing it, hubungan yang terbangun jadi lebih tulus.

Lesson learned: Give before you ask.

Dalam perjalanan aku sebagai muslimahpreneur, aku mulai mengubah pendekatan. Bukan langsung menawarkan produk, tapi lebih ke sharing manfaat, edukasi dan inspirasi.

5. Fast, Responsive and Intentional

Gen Z itu cepat. Respon cepat, decision cepat bahkan networking pun cepat. Tapi bukan berarti asal-asalan. Mereka tetap intentional, memilih mana relasi yang sejalan dengan value mereka. Aku belajar untuk lebih menghargai waktu dalam networking. Tidak menunda fllow up, tidak membiarkan pesan menggantung terlalu lama.

Lesson learned: Respect time, yours and others.

Reflection: Bridging Generation in Business

Honestly, being in between, sebagai Gen X atau Milenial yang banyak berinteraksi dengan Gen Z itu seperti menjadi jembatan. Aku belajar bahwa tidak ada cara yang "paling benar" dalam networking. Tapi ada cara yang lebih relevan dengan zaman.

Sebagai seorang muslimahpreneur, aku merasa penting untuk terus adaptif. Karena bisnis bukan hanya tentang produk, tapi tentang people and connection.

Closing Thoughts

Pelajaran networking dari Gen Z ini membuka mata aku bahwa dunia sudah berubah and we need to evolve. 

  • From being formal to being authentic
  • From selling to serving
  • From competing to collaborating

And the most beautiful part? Aku belajar ini bukan dari buku atau seminar mahal, tapi dari anak aku sendiri dan dari komunitas Gen Z yang aku temui di perjalanan.

So, for you, para milenial atau Gen X yang sedang membangun bisnis, maybe it's time to pause and reflect: Are We Networking or Just Collecting Contact.

Karena pada akhirnnya, networking yang kuat bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, tapi seberapa dalam hubungan yang kita bangun.






Tidak ada komentar