Tampilkan postingan dengan label cilya in wonderland. Tampilkan semua postingan

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis

1 komentar

 

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Assalamualaykum,

Kali ini aku mau bahas seputar tonton-an channel YouTube favorit aku. Sebenarnya aku banyak ya subscribe YouTube Channel, mulai dari tema masakan, traveling, Journaling, Modest Fashion sampe YouTube Channel teman-teman sesama Vlogger dan Blogger. Sebagai salah satu Mompreneur dan juga Muslimahpreneur, aku selalu percaya bahwa growth is intentional. 

Growth itu harus diupayakan. Salah satu cara aku upgrade diri adalah dengan rutin menonton podcast dan YouTube channel yang insightful. Di sela-sela jadwal handle jamaah umroh, meeting dan kasih mentoring atau bahkan ngurusin my modest fashion collection, sampai urus stok AHP, aku punya me-time sederhana: watching inspiring YouTube channels sambil minum kopi atau coklat hangat. 

5 channel favoritku yang benar-benar memberi impact.

1. Purwadhika Digital Technology School

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka banget episode yang menghadirkan Pak Andin Rahmana dan Bu Mandy Purwa Hartono. Insight mereka tentang digital business, marketing & Sales relate dengan perjalanan bisnisku. 

Sebagai owner dari beberapa bisnis, digital marketing is no longer optional. Dari channel ini aku belajar bagaimana pentingnya adaptasi teknologi, personal branding, marketing dan sistem bisnis yang sustainable. Rasanya seperti ikut kelas singkat tapi powerful.

2. Hamimommy & Honeyjubu

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Honestly, ini guilty pleasure tapi juga productive pleasure sih. Channel mereka (ini dua channel berbeda btw), berisi kegiatan beres-beres rumah, masak, daily routine dalam format ASMR yang calming banget.

Kadang setelah seharian meeting atau aktivitas syiar di luar, aku nonton ini untuk recharge energy. Anehnya, habis nonton malah jadi semangat beres-beres rumah, kulkas, food wrap hahaha. It reminds me bahwa being productive doesn't always mean being busy, sometimes it means being present.

3. Creativera

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Ini salah satu channel podcast favoritku untuk belajar seputar branding dan business strategy. Narasumbernya selalu berbobot dan real practitioner. Ternyata di Indonesia banyak juga lho anak muda atau bahkan generasi milenial yang bagus banget ilmunya.

Sebagai muslimahpreneur, aku sadar bahwa branding bukan cuma soal logo atau feed instagram yang setetik. Branding is about value, story dan consistency. Dari sini aku belajar cara positioning bisnis travel haji umroh dan modest fashion aku supaya punya diferensiasi yang  kuat di market.

4. The Balance Theory

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Podcast ini fokus pada self development dan confidence building. YouTube Channel ini dari luar negeri dan tentunya full bahasa Inggris dan ini jadi melatih aku juga pronunciation English aku. Aku merasa sebagai perempuan muslimah, penting banget untuk punya self worth dan clarity in life.

Listening to this podcast membuatku lebih mindful dalam mengambil keputusan bisnis, lebih tenang menghadapi tantangan dan lebih percaya diri saat berbicara di depan tim maupun jamaah.

5. Aziza Francienne

5 Youtube Channel Favoritku untuk Self Development dan Bisnis


Aku suka dengan perjalanan Aziza dalam berhijab (ini channel YouTube orang Indo ya btw). Dia suka sharing mengenai aktivitasnya kuliah, bekerja di Inggris serta explore kuliner halal dan tempat-tempat menarik di UK.

Cerita-ceritanya bikin aku tambah kepingin banget tinggal di London - UK. Yang aku pernah sharing di beberapa tulisan blog aku sebelumnya kalau aku dari kecil suka banget sama London - UK. Mulai dari dialek bahasanya yang khas, bangunannya serta culture nya. Apalagi sekarang makin banyak orang Islam di sana. I realize that being global muslimah itu nyata. Kita bisa tetap berhijab, tetap ambitious dan tetap humble.

Manfaat Nonton Podcast untuk Bisnis & Self Development

Aku selalu catat inti dari apa yang aku dapat setelah nonton Youtube channel mereka terutama yang membantu dalam perkembangan bisnis juga diri aku pribadi. Dari lima channel ini, aku merasakan banyak manfaat:

  • Menambah ilmu bisnis, marketing, sales dan strategi branding
  • Memperkaya vocabulary dan cara berbicara profesional
  • Membuka minset baru untuk self growth
  • Menjadi motivasi untuk terus upgrade diri
  • Menumbuhkan semangat berbagi positive vibes

Sebagai blogger, muslimah speaker, muslimah influencer juga pebisnis, aku merasa tanggung jawab untuk share hal-hal baik di media sosial. Because when we share knowledge, we create impact. Dan semoga setiap insight yang aku bagikan ke follower menjadi amal jariyah untukku kelak.

Apakah kamu juga punya YouTube Channel favorit? Yuk sharing nama YouTube Channelnya dan manfaat apa yang kamu dapatin setelah nonton di kolom komen ya...💗



Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion

Tidak ada komentar

 

Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion


Assalamualaykum,

Siapa yang lemari bajunya numpuk dengan baju baju tapi masih saja bilang ngga punya baju? Hehehe... aku termasuk golongan ini 😁. But one thing for sure, aku belajar satu hal penting: hidup itu tentang balance. Balance antara ambisi dan syukur, antara growth dan simplicity.

Di tengah era ekonomi yang sedang naik turun ini, aku mulai bertanya pada diri sendiri, "Do I really need new clothes every season?" Jawabannya ternyata sederhana yaitu tidak selalu. Aku memilih untuk mencoba minimalist modest fashion lifestyle. Bukan karena tidak mampu membeli yang baru, tapi karena ingin lebih mindful dalam setiap keputusan. Especially soal fashion.

1. Upcycling Fashion: Old But Gold

Gaya Hidup Minimalist Lewat Sustainable Modest Fashion


Salah satu yang aku lakukan adalah
Upcycling Fashion. Ini bukan sekadar memakai baju lama, tapi proses kreatif untuk meningkatkan nilai pakaian lama menjadi sesuatu yang lebih estetik dan fungsional tanpa merusak bahan dasarnya.

Misalnya ada tunik lama yang warnanya masih cantik tapi modelnya terlalu basic. Aku tambahkan bordir kecil di bagian lengan atau mengganti kancingnya dengan yang lebih unik. Sometimes, I even add lace detail supaya terlihat lebih feminine.

Rasanya menyenangkan sekali ketika ada yang bilang, "MasyaAllah, bajunya baru ya?". Padahal itu hasil kreativitas dari lemari sendiri 😉.

Upcycling ini juga mengajarkan bahwa keberkahan itu seringkali tersembunyi dalam apa yang sudah kita miliki.

2. Refashion: Reuse with Style


Selanjutnya, aku mencoba
Refashion. Ini adalah tren fesyen yang fokus pada reuse pakaian lama dengan mengubah desainnya agar lebih modern.

Contohnya gamis lama aku yang modelnya terlalu lebar, aku potong sedikit dan tambahkan belt agar terlihat lebih structured. Atau scarf lama yang ukurannya besar, aku ubah menjadi outer yang chic untuk dipakai ke mall atau ke kantor aku.

In this economic climate, being stylish doesn't mean being wasteful.

Sebagai pebisnis modest fashion, aku justru merasa lebih autentik ketika bisa menunjukkan bahwa elegan itu bukan tentang harga, tapi tentang bagaimana kita membawa diri.

Refashion membuatku lebih kreatif dan lebih sadar bahwa style is not about trends, it's about identity.

3. Rework: Mixing Stories into One Outfit

Yang paling seru adalah Rework. Ini biasanya aku lakukan ketika menemukan dua pakaian lama yang sudah jarang dipakai.

Aku pernah menggabungkan dua kemeja berbeda, satu dengan motif floral, satu polos, lalu dijadikan satu desain baru dengan teknik patchwork sederhana. Hasilnya? Totally unique. Tidak ada yang sama.

Rework itu seperti hidup. Sometimes Allah combine different chapters of our life to create a better story. Begitu juga pakaian. Dua potong kain lama bisa berubah menjadi satu outfit dnegan karakter yang kuat.

Hidup minimalis bukan berarti hidup kekurangan. For me, minimalism is about intentional living. Memilih dengan sadar, membeli dengan bijak dan menggunakan dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai muslimahpreneur, aku ingin menunjukkan bahwa sustainable modest fashion itu bukan sekadar tren, tapi bagian dari nilai hidup.

Ekonomi boleh naik turun. tren boleh berubah. Tapi prinsip untuk hidup sederhana, elegan, dan penuh syukur itu ingin terus aku jaga. Karena pada akhirnya, style terbaik adalah ketika hati kita merasa cukup 💕💗




Me Time Ku: Jurnaling & Watching Movies adalah Cara Aku Merasa Lebih Hidup

1 komentar

 


Me Time Ku: Jurnaling & Watching Movies adalah Cara Aku Merasa Lebih Hidup


As a Mom and as a Mompreneur, aku belajar satu hal penting, being productive doesn't mean forgetting yourself. Di balik jadwal padat, meeting, live selling tanpa henti dan target bisnis yang harus dicapai, aku tetap butuh waktu untuk terkoneksi dengan diri sendiri. That's where me time becomes sacred.

Dulu aku berpikir me time itu harus mewah: spa, staycation, atau liburan jauh. Tapi semakin dewasa, aku sadar bahwa me time is about presence. Tentang bagaimana aku benar-benar hadir untuk diriku sendiri. Cara paling sederhana namun bermakna bagiku adalah jurnaling dan menonton film (baik itu di Netflix, Disney Channel atau VIU...I think they should pay me for endorsement 😁 )

Jurnaling: Percakapan Jujur dengan Diri Sendiri

Jurnaling adalah ritual kecil yang selalu aku sempatkan, usually di pagi hari setelah subuh atau malam sebelum tidur. Dengan secangkir minuman kesehatan yang hangat, aku membuka jurnal dan mulai menulis tanpa beban. tidak harus rapi, tidak harus puitis. Just write!

Aku menulis tentang apa yang aku rasakan hari itu, rasa lelah, syukur, harapan, quotes, bahkan ketakutan. As a muslimah, journaling juga menjadi bentuk muhasabah. Aku sering menyelipkan doa, ayat yang menenangkan, atau sekedar kalimat sederhana: "Ya Allah, hari ini aku ingin lebih tenang, damai dan bahagia."

This simple habit helps me reconnect with my soul. Jurnaling membuat aku lebih aware dengan emosi ku, lebih lembut pada diri sendiri, dan lebih jujur tentang apa yang sebenarnya aku butuhkan. In a world that constantly asks us to be strong, journaling allows me to be soft.

Movies Time: Healing with Stories

After a long day, my other favorite me time is watching movies. Kadang Netflix, kadang VIU atau kadang Disney Channel. I Know, it sounds simple, but it works.  Aku biasanya memilih film romantic comedy yang ringan atau drama Korea dengan cerita hangat dan visual yang menenangkan. Ngga jarang juga sih nonton drama Cina atau bahkan juga India ..hahahaha....

Ada sesuatu healing dari melihat kisah cinta sederhana, keluarga dan perjalanan hidup orang lain. Menonton drama Korea sambil rebahan is my version of self-care. It reminds me that life doesn't always have to be rushed. Kadang, aku tertawa sendiri. Kadang, aku menangis pelan. And both are okay.

Me Time sebagai Bentuk Syukur

Buatku, me time bukan bentuk pelarian dari tanggung jawab, tapi justru cara untuk kembali dengan energi yang lebih utuh. Ketika aku menjaga diriku, aku bisa lebih hadir untuk keluarga, bisnis dan orang-orang yang aku layani.

Sebagai muslimahpreneur, aku percaya bahwa merasa hidup bukan tentang doing more, but about feeling deeper. Dengan jurnaling dan Netflix time, aku belajar mencintai proses, menikmati jeda dan mensyukuri setiap fase kehidupan.

Because at the end of the day, a calm heart is also a success 🤍






4 Circle Pertemanan dalam Hidup ku: Antara Persahabatan, Bisnis dan Jannah Goals

Tidak ada komentar

 

4 Circle Pertemanan dalam Hidup ku: Antara Persahabatan, Bisnis dan Jannah Goals


Assalamualaykum,

Berjalan di fase hidup saat ini, I realize one thing: hidup terasa jauh lebih kaya bukan karena banyaknya pencapaian, tapi karena siapa saja yang berjalan bersama kita. As a muslimahpreneur juggling several business and my role as a blogger, I'm blessed to have empat circle pertemanan yang masing-masing memberi warna berbeda dalam hidupku.

Circle pertama adalah sahabat aku di Junior Middle School friends. Mereka adalah saksi versi diriku yang paling polos, paling jujur dan penuh tawa tanpa beban. Setiap bertemu, rasanya seperti time travel, kembali ke masa di mana masalah hanya soal PR belum selesai. Dari mereka, aku belajar tentang loyalty and unconditional friendship. No matter how far life takes us, hati kami tetap saling terhubung.

Lalu ada circle High School Best Friends, yang tumbuh bersama di masa pencarian jati diri. This circle reminds me of dreams, ambitions, and the courage to start. Kami sering berbagi cerita tentang keluarga, putus cinta zaman sekolah dulu, anak, karier dan perjalanan hidup yang tidak selalu mulus. Di sini aku belajar empati dan respect each other, bahwa setiap orang punya timeline-nya sendiri.

Circle ketiga adalah circle sahabat muslimah. this one feels like a spiritual recharge. Kami saling mengingatkan tentang iman, adab dan tujuan hidup. Obrolan kami sering berujung pada refleksi: sudah sejauh mana kita berjalan menuju Allah? Dari circle ini, aku belajar no judging person, karena setiap hari sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Circle aku ini menenangkan, grounding and healing.

Terakhir, circle teman sharing bisnis. This is where growth happens intensely. Diskusi strategi, sharing peluang sampai brainstorming ide sering membuka wawasan baru. Rezeki feels wider when networking is built with sincerity. Dari circle ini, aku belajar bahwa kolaborasi jauh lebih indah daripada kompetisi, dan mindset positif benar-benar menentukan arah bisnis.

Of course, every blessing comes with small challenges. Dukanya, sometimes ada argumen kecil ketika bertemu, tapi never significant enough to break the bond. When schedules get packed, I do feel overloaded. And yes, kadang terlalu banyak insight datang bersamaan, making me pause and choose again: mana yang paling selaras untuk dijalankan, baik untuk kehidupan pribadi maupun bisnis.

Namun manfaat memiliki circle pertemanan jauh lebih besar. Secara prikologis, it helps reduce stress. Ada tempat berbagi, tertawa, kuliner bareng bahkan menangis tanpa dihakimi. Having friends who listen is a form of rezeki that money can't buy.

Seiring bertambahnya usia, aku tidak lagi ingin memiliki terlalu banyak circle. Wisdom teaches me to choose quality over quantity. Pertemanan yang membawa kita lebih dekat pada Allah, lebih bertumbuh dalam bisnis dan lebih damai dalam hidup, itulah yang ingin aku jaga. Because at the end of the day, tujuan kita bukan sekadar sukses di dunia.

Jannah is the goals dan harapan ku circle yang ada hari ini, adalah bagian dari jalan indah menuju-Nya 🤍





My Reading Commitment This Year: Feeding the Mind and the Soul

Tidak ada komentar

 



Assalamualaykum,

Bismillah. Tahun ini aku ingin lebih intentional dengan hidup. Bukan hanya soal business goals, travel schedule, atau launching produk baru, tapi juga tentang what I feed my mind and soul. Sebagai seorang muslimahpreneur yang sehari-harinya juggling antara bisnis travel haji umroh, wisata halal, modest fashion, healthy drink dan menulis blog, membaca adalah one of my quiet luxuries. A small pause in a busy day, yet powerful enough to realign my heart.

This year, I set a simple but meaningful target: 4 buku untuk dibaca secara konsisten. Sounds simple, right? But for me, it's not about quantity, it's about presence.

Yang pertama tentu saja Al-Qur'an. I know, technically it's not a book, tapi a holy scripture that guides my entire life. Tahun 2024 aku bisa khatam 5 kali dalam setahun. Masya Allah, I was so proud of that. Tapi jujur, tahun 2025 menurun drastis, hanya 2 kali khatam. 

Sedih? Iya banget. Karena itulah, tahun ini aku menargetkan minimal 3 kali khatam, dengan doa besar semoga bisa 4 kali atau lebih. Al-Qur'an is not just something to finish, but something to live with. Every Ayah feels like a personal reminder when read with a calm heart.

Buku kedua adalah "Taman Cinta" karya Khalil Gibran. I've loved his works since high school. There's something about his romantic, poetic sentences that feels timeless. Kalimat-kalimatnya sejuk, gentle dan seperti pelukan hangat untuk jiwa yang lelah. When life feels loud, meeting here, deadline there, Gibran reminds me to slow down and feel.

Next is "Why The Rich Are Getting Richer" by Robert T Kiyosaki. This one is more practical, more "business minded". I want to reread and refresh my understanding about business, investing and building income streams. As someone who runs multiple businesses, I believe revisiting fundamental is important. Sometimes we don't need new knowledge, we just need to remember what we already know but forgot to apply.

The fourth book is "Don't Sweet the Small Stuff in Love" by Richard Carlson, Ph.D. and Kristine Carlson. This book gently reminds us not to make small issues a big deal i relationship. As a wife partner, and woman who wears many hats, this book feels like a soft whisper: choose peace, choose understanding.

So how do I stay committed? This is my way:
  1. Read Al-Qur'an after every sholat, minimum 5 ayah. Small but consistent.
  2. Rotate the other three books, so I don't get bored. I pause after an interesting chapter, then move to another book.
  3. Always bring a book in my bag, especially when I know there will be waiting time during trips.
  4. Use cute and meaningful bookmarks. Yess, this matters more than people think.
  5. Journal every morning before work, writing down quotes or insight. It makes me more excited to read and more mindful in journaling.

Bismillah, semoga bisa komitmen. Because reading, for me, is not an escape. It's a return. Back to purpose, faith, and calmer version of myself.






5 Places That Heal My Soul When Burnout Hits

Tidak ada komentar

 

5 Places That Heal My Soul When Burnout Hits


Sebagai seorang muslimahpreneur yang menjalani beberapa bisnis, burnout is not a stranger to me. Add to that my role as a blogger who loves to share daily journey, reflections and behind the scenes of life, sometimes my mind feels too full and my heart needs a pause.

Over time, I realized that healing doesn't it always mean stopping completely. Sometimes, it means changing places. These are the five place that always inspire me, calm me, and gently remind me of who I am and why I started.

1. A Cozy Cafe 

Cafe is my space. Not the noisy one, but a calm corner cafe where the aroma of coffee feels like a warm hug. I usually order a cup of coffee or warm chocolate milk, paired with a small snack, nothing fancy, just comforting.

Di sini, aku bisa membuka laptop dengan tenang. Sometimes I write a blog post, sometimes I reply emails, or simply reorganize my thoughts. The soft background music and gentle clinking of cups somehow slow my racing mind. Cafe moments remind me that productivity doesn't have to feel rushed. It can be soft, mindful and enjoyable.

2. Perpustakaan 📚

There is something magical about libraries. The silence, the smell of books, and the feeling of being surrounded by knowledge instantly calm me down.

Di perpustakaan, aku sering membaca novel luar negeri untuk refreshing dan membantu pembendaharaan kosakata aku dalam berbahasa Inggris. Kadang aku baca buku tentang fashion, branding dan business motivation. Reading helps me escape pressure while still growing. It's like resting, but smarter. Libraries remind me that growth can be quiet and elegant, not always loud or competitive.

3. Mekkah dan Madinah 🕋

This is where my soul truly breathes.

Saat berada di Mekkah dan Madinah, aku tetap seorang businesswoman, but only 20%. The remaining 80% is a servant, a daughter of Allah who comes with stories, worries, gratitude and tears.

Umroh is my deepest therapy. I curhat to Allah about anything, like business decisions, exhaustion, fears, and dreams. The atmosphere teaches me perspective: that no matter how big my workload feels, it is still small compared to the purpose of life. Di sini burnout berubah menjadi tawakal.

4. My Parents' House 🏡

Pulang ke rumah orang tua is like pressing a reset button.

chit chat tipis-tipis dengan Mama, sharing hal-hal kecil yang ternyata berarti. Sometimes laughing with siblings, sometimes just sitting together without talking much. Di rumah ini, aku bukan CEO, bukan founder, bukan blogger. I am simply "anak rumah".

This place reminds me that love doesn't require achievements. Just presence.

5 Pantai 🌊

The beach is where my thoughts dissolve.

Menikmati angin pantai, suara deburan ombak dan langit yang luas make me feel small in a good way. The ocean teaches patience and consistency. Waves come and go, just like a problems.

Di pantai, aku belajar bahwa burnout is not a failure. It's a signal to pause, breathe and realign.

These five places shape my healing journey. They remind me that a muslimahpreneur can be ambitious and soft at the same time. And when burnout comes again (as it always does), I know exactly where to go 🤍.




Terlihat Kecil Tapi Sangat Menolong, Penolong Tidak Terduga dalam Perjalanan Bisnis

1 komentar

 

Terlihat Kecil Tapi Sangat Menolong, Penolong Tidak Terduga dalam Perjalanan Bisnis


Menjadi seorang Ibu sekaligus pengusaha memang bukan hal yang mudah. Rasanya seperti menyeimbangkan piring di satu tangan dan menggendong anak di tangan lainnya - selalu ada tantangan baru. Di tengah kesibukkan mengurus rumah tangga, mendampingi anak dan memikirkan strategi bisnis, terkadang kita merasa lelah dan sendiri.

Mulai berbisnis itu seperti roller coaster, kadang di atas, kadang di bawah. Sebagai seorang Ibu yang merintis berbagai usaha, dari minuman kesehatan madu AHP, travel haji umrah BTravel, sampai brand fashion modest House of Aisy, aku tahu betul rasanya. Ada hari-hari di mana semuanya lancar, tapi ada juga saat-saat di mana rasanya buntu dan ingin menyerah. Nah, di momen-momen inilah, aku sering bertemu dengan penolong tidak terduga.

Menghargai Bantuan yang Tidak Terduga

Mungkin bagi sebagian orang, bisnis itu soal angka, strategi atau modal besar. Tapi bagi saya, bisnis itu juga soal manusia. Ada kalanya kita butuh bantuan, dan bantuan itu datang dari orang-orang yang seringkali tidak kita duga. Mereka mungkin bukan investor besar atau mentor terkenal, tapi kehadiran mereka sangat membantu.

Aku ingat, saat awal-awal merintis Azzahra Honey Premium (AHP), aku masih mengemas madu sendiri di rumah. Waktu itu, pesanan sedang banyak-banyaknya. Aku kewalahan, mulai dari menyiapkan botol, menimbang madu, sampai menempelkan label.

Sampai suatu hari, ada kenalan dari networking aku yang kebetulan tinggalnya tidak jauh dari rumah aku menawarkan diri untuk membantu menempelkan label. Aku awalnya ragu, tapi beliau bilang, "Sudah, jangan sungkan. Aku juga senang kalau bisa bantu-bantu."

Bantuan itu kelihatannya sepele ya? Cuma menempel label. Tapi dampaknya luar biasa. beban aku jadi berkurang, pesanan bisa selesai tepat waktu, dan aku merasa tidak sendirian. Ibu itu menjadi penolong tidak terduga yang mengajarkan aku bahwa kebaikan kecil bisa memberikan dampak besar. Ia tidak meminta bayaran, ia hanya ingin membantu. Bantuan tulus seperti ini adalh inspirasi bisnis yang paling nyata.

Dari Kisah Kecil Menjadi Pelajaran Berharga

Pengalaman serupa juga aku temui saat mengembangkan BTravel. Waktu itu, aku dan Pak Suami sedang mengurus visa untuk calon jamaah umrah. Ada satu dokumen yang nyangkut dan sulit sekali diurus. Kami sudah bolak balik ke kantor terkait, tapi selalu mentok. Aku merasa putus asa. 

Lalu, seorang petugas keamanan di sana, yang sering aku sapa, menghampiri. Dia bertanya ada apa. Aku ceritakan masalahnya. Tanpa disangka, ia memberi tahu trik kecil untuk mempercepat prosesnya, sesuatu yang tidak kami ketahui. Dengan petunjuknya, masalah itu akhirnya selesai.

Lagi-lagi, ini bukan bantuan dari orang "penting". Ia hanya seorang petugas keamanan yang ramah. Tapi berkat kebaikan dan pengamatannya, masalah kami selesai. Ini mengajarkan aku bahwa networking tidak hanya dengan pebisnis lain, tapi juga dengan setiap orang yang kita temui. Kita tidak pernah tahu, siapa yang akan menjadi penolong kita di masa depan.

Dalam dunia fashion modest, kisah serupa juga terjadi. Saat aku meluncurkan koleksi pertama untuk fashion show perdana aku, seorang pelanggan setia aku datang dan dengan jujur memberi masukan tentang bahan dan ukuran. Awalnya aku sedikit tersinggung, tapi setelah aku pikirkan, ia melakukannya karena pedulu. Ia bukan hanya pelanggan, tapi juga seorang penolong tidak terduga yang membantu aku meningkatkan kualitas produk.

Kunci Sukses Bukan Hanya Soal Diri Sendiri

Dari pengalaman ini, aku menyadari satu hal sukses dalam bisnis tidak bisa dicapai sendirian. Kita butuh tim, mitra, dan yang tidak kalah penting, penolong-penolong tidak terduga itu. Mereka adalah pelanggan yang jujur, tetangga yang tulus membantu, atau bahkan orang yang kita temui di jalan.

Mengapa mereka mau membantu? Karena kita membangun hubungan yang baik. Kita tidak memandang rendah siapapun, kita bersikap ramah, dan kita menghargai setiap orang. Sikap ini menciptakan lingkungan positif di sekitar kita. Ketika kita membutuhkan, orang-orang ini dengan senang hati akan datang. Ini bukan soal memanfaatkan, tapi soal saling bantu dan menguatkan.

Sebagai seorang Ibu, aku juga mengajarkan hal ini pada anak-anak aku. Bahwa kebaikan kecil bisa berdampak besar. Sama seperti produk madu AHP yang meski kemasannya kecil, tapi manfaatnya luar biasa. Atau perjalanan umrah bersama BTravel yang mungkin terasa singkat, tapi makna spiritualnya seumur hidup.

Jadi, jika saat ini kamu sedang berjuang, jangan merasa sendirian. Buka mata dan hati. Mungkin saja penolong tidak terduga itu sudah ada di dekatmu, siap untuk membantu. Hargai setiap bantuan yang datang, sekecil apapun itu. Karena di situlah letak kekuatan sejati dari bisnis yang humanis, yaitu saling menolong dan berbagi kebaikan.



Pesona Malam Kuala Lumpur di Tapak Urban Street Dining

5 komentar

 

Pesona Malam Kuala Lumpur di Tapak Urban Street Dining


Assalamualaykum,

Perjalanan bisnis sering kali menuntut fokus dan profesionalisme, namun ngga jarang juga aku sempatkan untuk menikmati hal-hal kecil yang membuat sebuah kota di negara yang aku kunjungi terasa istimewa. Salah satunya saat aku bisnis trip ke Kuala Lumpur.

Kebetulan bisnis fashion aku bekerja sama dengan store di Kuala Lumpur yang menuntut aku untuk beberapa kali bolak balik ke negara ini. Biasanya setelah seharian penuh berinteraksi dengan mitra dan menghadiri pertemuan, malam hari menjadi momen yang aku nantikan untuk bersantai dan menjelajah sisi lain dari ibu kota Malaysia ini.


Pernah suatu waktu, aku pilih hotel untuk menginap selama bisnis trip aku adalah di sekitar Pavilion Kuala Lumpur dan Starhill Gallery. Ngga jauh dari situ ada tempat yang katanya sangat populer di kalangan anak muda dan pecinta kuliner, yaitu Tapak Urban Street Dining
Lokasinya bisa dibilang strategis dan ngga jauh sih dari Menara Kembar Petronas. 

Waktu tiba di lokasi, serasa disambut oleh suasana yang begitu hidup dan dinamis. Kira-kira ada mungkin ya puluhan orang kesini di malam itu, baik turis maupun penduduk lokal, berbaur di area terbuka yang dipenuhi oleh food truck berwarna warni.

Lampu-lampu hias berkelap-kelip, menciptakan suasana yang hangat dan meriah. Aroma sedap dari berbagai jenis makanan dari mau masuk areanya saja sudah ke cium lho. Makanya hal ini yang tadi aku bilang, serasa disambut dan bikin kita jadi ingin segera menjelajahi setiap sudutnya.

Kira-kira cepat dapat makan? Tentu tidak 😀😀.... Padahal perut sudah lapar, tapi tetap saja kaki ini melangkah melihat satu persatu food truck yang ada disana, sambil pilih-pilih mau makan apa dan endingnya jadi bingung sendiri mau nentuin mau makan yang mana.

Makanan disini beragam, mulai dari sate, nasi lemak, kebab, duren, hingga aneka pasta, burger dan makanan western lainnya. Akhirnya aku mutusin untuk coba beberapa hidangan lokal yang paling otentik. Tentu aku pilih nasi lemak dengan ayam gorengnya yang renyah. Rasa sambal yang pedas manis berpadu sempurna dengan gurihnya nasi dan ayam, sebuah kombinasi yang sungguh memanjakan lidah.

Lanjut aku ke food truck sebelahnya dan pesan sate ayam dan sate daging yang disajikan dengan kuah kacang kental. Dagingnya empuk dan bumbu marinasinya meresap sempurna. Kok jauh-jauh ke KL tapi pesannya sate? Eits..., satenya beda guys dari yang di Indo. 

Sambil menikmati hidangan, aku duduk di salah satu meja di dekat panggung live music. Di Tapak Urban Street Dining ada live music yang dibawakan oleh para musisi jalanan, tentunya menambah syahdu suasana. Memang kalau di lihat sih suasananya ngga jauh beda ya dengan suasana di Gading Serpong - Karawaci, yang kebetulan aku tinggal di antara Gading Serpong dan Karawaci.


Yang bikin ngga terlalu beda adalah rata-rata di Tapak Urban selain orang Malay juga cindo-cindo. Tahu dong ya di Gading Serpong - Karawaci juga area cindo-cindo 😁.  Tapi vibesnya tetap sih bagi aku beda saja karena aku bisa merasakan pengalaman sosial yang otentik, dimana kita bisa melihat kehidupan malam di Kuala Lumpur dari sudut pandang yang berbeda.

Saat aku akan meninggalkan lokasi, aku janji kalau pas ke KL lagi, aku mau mampir kesini lagi. Pengalaman ini mengajarkan aku bahwa di tengah kesibukan perjalanan bisnis, penting untuk meluangkan waktu untuk menikmati hal-hal sederhana yang membuat sebuah kota memiliki jiwa.

Tapak Urban Street Dining bukan hanya tempat makan, melainkan sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman kuliner malam yang tidak terlupakan di jantung kota. Sebuah tempat yang aku ingin kembali lagi kesini.




Makna Sejati Kesuksesan. Lebih dari Sekadar Angka di Rekening

2 komentar

 

Makna Sejati Kesuksesan. Lebih dari Sekadar Angka di Rekening


Aku sering merenung tentang apa sebenarnya arti kesuksesan. Dulu mungkin aku berpikir bahwa sukses itu identik dengan seberapa besar omset perusahaan, berapa banyak aset yang berhasil aku kumpulkan atau seberapa tinggi jabatan yang aku pegang. Namun seiring berjalannya waktu dan berbagai pengalaman yang aku alami, pandangan aku tentang kesuksesan mulai meluas.

Kita ini hidup di dunia yang seringkali mengukur kesuksesan atau keberhasilan dari pencapaian materi. Seolah-olah, semakin banyak nol di belakang angka di rekening bank atau semakin ber-merk pakaian atau mobil yang di kenakan dan digunakan, maka itulah puncak kesuksesan. Padahal, jika kita mau melihat lebih dalam, makna kesuksesan jauh lebih kaya dan multidimensional dari itu.

Bagi aku dan mungkin saja bagi teman-teman yang memiliki bisnis, kesuksesan itu adalah tentang ketahanan. Bayangin deh berapa banyak badai yang sudah kita lewati? Berapa banyak keraguan yang berhasil kita tepis?

Kita bisa sukses bertahan sejauh ini dengan segala jatuh bangun dan bangkitsetelah terjatuh, setiap kali kita menemukan solusi di tengah kebuntuan, itulah manifestasi dari kesuksesan yang sesungguhnya.

Kesuksesan juga hadir dalam dampak baik yang kita berikan. Seperti yang aku rasakan saat tahu, produk minuman kesehatan aku yaitu AHP (Azzahra Honey Premium) bisa membantu banyak orang sembuh dari penyakit yang di deritanya (seperti kolesterol, asam urat sampai stroke). Belum lagi bisnis travel haji umrah aku yang ternyata bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Hal hal tadi itulah yang ternyata bagi aku sebuah kesuksesan yang melampaui angka-angka, kesuksesan yang beresonansi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan membuat kebahagiaan sejati muncul di hati.

Kemudian ada juga kesuksesan dalam kemudahan urusan. Ini mungkin terdengar sepele, tapi coba deh renungkan. Ketika kita bisa menyelesaikan berbagai kewajiban dengan lancar, baik itu urusan pekerjaan, keluarga atau bahkan hal-hal kecil sehari-hari, itu adalah sebuah bentuk kesuksesan.

Memiliki networking dengan orang-orang penting, beberapa orang dari networking kita mengenal diri kita adalah pribadi yang baik, santun dan solehah, bagi aku pribadi hal ini juga merupakan sebuah definisi sukses juga.

Sukses tentang proses belajar dan bertumbuh. Setiap tantangan yang kita hadapi, setiap kesalahan yang kita buat adalah pelajaran berharga yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mampu beradaptasi, berinovasi dan terus belajar dari setiap pengalaman adalah kesuksesan yang berkelanjutan.

Jadi yuk mari kita perluas lagi perspektif tentang apa itu sukses. Ini bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian finansial kita, tetapi juga seberapa besar dampak positif yang kita berikan, seberapa tangguh kita dalam menghadapi badai, seberapa baik kita dalam mengelola hidup dan seberapa banyak kita berkembang sebagai seorang individu. 

Kesuksesan itu adalah sebuah perjalanan yang kaya akan makna dan setiap langkah kecil di dalamnya patut untuk dirayakan.



Mengelola Hati di Tengah Badai

2 komentar

 

Mengelola Hati di Tengah Badai


Assalamualaykum,

Teman-teman, siapa disini yang meyakini akan kalimat quote ini: "Hidup ini bagaikan roda, kadang di atas, kadang pula di bawah." Aku percaya akan kalimat ini dan tentunya menjadi pengingat diri agar tidak sombong atau sedih ketika putaran kita berada di bawah. 

Saat kita berada di posisi "roda di bawah", saat dimana cobaan datang bertubi-tubi, seakan harapan terasa sekalu jauh dan semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencana kita, tentunya rasa kecewa, sakit hati dan luka seringkali menghampiri. Lalu bagaimana kita bisa mengelola emosi dan mental kita saat berada di situasi yang sulit ini.

Akui dan Rasakan, Tanpa Menyalahkan

Jangan menekan atau mengabaikan rasa kecewa, sakit atau luka. Akuilah dan izinkan apa yang kita rasakan. Menangislah jika perlu, berteriaklah dalam hati atau tuliskan semua keluh kesah yang sedang kita alami. Sebab hal ini bisa menjadi salah satu proses penyembuhan mental dan batin kita.

Merasakan emosi negatif bukan berarti kita ini "marah" pada Allah yang memberikan segala macam masalah dan memberikan segala macam solusi. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa kita adalah manusia biasa yang memiliki batasan dan butuh waktu untuk memahami permasalahan yang ada.

Jadi, jangan merasa bersalah ketika kita sedang atau habis merasakan yang namanya kesedihan, kekecewaan, sebab hal itu merupakan sebuah respon yang alami. Yang penting bagaimana kita menyikapi rasa tersebut. Apakah akan berlarut-larut dalam emosi kita atau kita mulai bisa memilih untuk menerima dan mencoba memahami?

Berprasangka Baik pada Sang Maha Pencipta

Normal sih kalau ketika masalah datang lalu sekilas terbersit ada kalimat mempertanyakan Allah. Kenapa Allah memberikan begitu banyak masalah ke dalam hidup kita. Setelah itu langsung ya istighfar dan mulai lah berprasangka baik pada Allah. Kita perlu ingat bahwa setiap manusia memiliki takdir masing-masing. Insha Allah akan ada skenario besar yang sedang Allah persiapkan untuk diri kita. Allah tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.

Coba deh ketika masalah datang, sesudah kita nangis-nangis dan hati mulai tenang, kita bertanya kepada diri kita "apa ya yang bisa aku pelajari dari masalah ini?". Pertanyaan sederhana ini menjadi salah satu untuk mengubah perspektif. Pengelolaan stres dan pikiran positif dimulai dari sini. Setiap kesulitan adalah ujian, sekaligus kesempatan untuk tumbuh. 

Masalah bisa menjadi "rem" agar kita berhenti sejenak, melihat ke dalam diri dan mengvaluasi kembali arah hidup kita.

Mendalami dan Mengais Makna Jangka Panjang

Setelah mengakui rasa sakit dan berusaha berprasangka baik, saatnya mendalami makna di balik semua ini. Coba tanyakan pada diri sendiri:

  • Pelajaran apa yang ingin Allah sampaikan melalui cobaan ini?
  • Kemampuan apa yang bisa aku kembangkan dari situasi ini?
  • Bagaimana aku bisa menjadi pribadi yang lebih kuat, sabar dan lebih dekat dengan-Nya setelah ini?

Mencari makna jangka panjang bukan berarti melupakan rasa sakit. Sebaliknya, itu adalah cara untuk menyalurkan energi negatif menjadi sesuatu yang konstruktif. Mungkin saja, dari kehancuran ini, akan tumbuh kebun bunga yang lebih indah. Mungkin, di balik setiap kegagalan, tersimpan jalan menuju kesuksesan yang tidak terduga.






Me Time? Bukan Cuma Mimpi! Prioritas Diri untuk Ibu Pebisnis Hebat

Tidak ada komentar

 


Me Time? Bukan Cuma Mimpi! Prioritas Diri untuk Ibu Pebisnis Hebat


Assalamualaykum,

Menjadi seorang Ibu sekaligus pebisnis adalah sebuah perjalanan yang luar biasa, penuh warna dan tidak jarang menantang. Rasanya seperti setiap hari adalah maraton dengan checkpoints yang tidak ada habisnya. Dari menyiapkan sarapan, mengurus anak, meeting dengan klien, sampai merencanakan strategi bisnis, semua berjalan beriringan.

Pernah ngga para mama mama nih merasa lelah, jenuh dan bertanya-tanya, "Kapan ya giliran 'Me Time' aku?" Jika pernah merasa begini dan bertanya kepada diri sendiri seperti ini, yukkk mariii kita berpelukan virtual. Aku juga pernah merasakan hal yang sama dan dari sanalah aku menemukan arti Self-Love yang sesungguhnya, bukan sekedar gaya hidup sesaat, melainkan sebuah fondasi yang kokoh.

Diri Kita, Prioritas Utama

Dulu aku sering merasa bersalah jika harus "mengambil" waktu untuk diri sendiri. Seolah-olah, waktu yang aku gunakan untuk relaksasi atau mengembangkan diri adalah waktu yang seharusnya aku curahkan untuk keluarga atau bisnis. Padahal justru sebaliknya!

Mengapa kita harus memprioritaskan diri? Karena kita istimewa. Iya kamu, aku dan kita semua itu istimewa lho, dengan segala kelebihan serta kekurangan, dengan segala peran yang kita emban, kita adalah pribadi yang unik dan berharga. Setiap noda di di lantai karena air pipis anabul, anak-anak yang kadang crancky, tumpukan laporan di meja, setiap ide bisnis yang muncul di kepala - semua itu adalah bagian dari diri kita. 

Menerima dan merayakan diri kita apa adanya adalah langkah pertama menuju self-love. Sadari bahwa energi dan kebahagiaan kita adalah bahan bakar utama untuk menjalankan segala peran tersebut. Jika tangki kita kosong, bagaimana bisa kita memberi yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita?

Totalitas dalam Setiap Peran

Setelah menyadari pentingnya prioritas diri, aku mula mengubah sudut pandang tentang totalitas. Bukan berarti bekerja 24/7 tanpa henti, melainkan totalitas dalam setiap momen. Ketika aku sedang mendampingi anak belajar, fokus aku 100% pada anak aku. Tidak ada lagi scroll media sosial atau memikirkan pekerjaan. Demikian pula ketika aku sedang merancang strategi bisnis, aku akan menyelam sepenuhnya ke dalamnnya.

Prinsipnya sederhana, berikan yang terbaik pada apa pun yang sedang kita lakukan saat itu. Jika kita seorang ibu rumah tangga, jadilah ibu rumah tangga yang total. Jika kita seorang yang profesional, jadilah profesional yang total. Dengan begitu, setiap aktivitas terasa lebih bermakna dan memuaskan. 

Hasilnya lebih sedikit penyesalan, lebih banyak kepuasan dan tentu saja stress yang jauh berkurang. Ini adalah bentuk self-love yang sangat praktis, menghargai waktu dan energi yang kita miliki dengan memberikannya secara penuh.

Menikmati Proses Belajar Tanpa Henti

Pernah dengar ungkapan "hidup adalah pembelajaran tiada akhir"? Sebagai Ibu pebisnis, kalimat ini sangat relevan. Setiap hari ada saja hal baru yang harus dipelajari. Mulai dari resep masakan baru, cara mendidik anak yang efektif hingga strategi pemasaran digital terbaru. Dulu aku sering merasa terbebani dengan semua "kejarusan" belajar ini. Namun, seiring waktu, aku menyadari bahwa menikmati proses belajar adalah kunci.

Anggaplah setiap tantangan sebagai sebuah puzzle menarik yang menunggu untuk dipecahkan. Ketika kita menghadapi kesulitan, itu bukanlah akhir dunia, melainkan kesempatan untuk tumbuh. Proses belajar ini bukan hanya tentang meningkatkan skill, tetapi juga tentang memahami diri sendiri lebih dalam. 

Apa yang membuat kita bersemangat? Apa yang menjadi kelemahan kita? Dengan mindset ini, setiap kegagalan akan terasa seperti feedback berharga, bukan sebuah hukuman. Dan ini , Sahabat adalah esensi dari self-love yang adaptif dan kuat.

Nyaman yang Berdampak Baik

Terakhir, mari kita bicara tentang kenyamanan. Kadang, kita terbuai dengan zona nyaman yang justru tidak mendukung pertumbuhan. Aku pun begitu. Namun, aku belajar untuk mencari kenyamanan yang berdampak baik. Apa maksudnya?

Ini tentang menemukan kegiatan atau kebiasaan yang membuat kita nyaman, bahagia dan pada saat yang sama, memberikan dampak positif bagi diri kita dan sekitarnya. Misalnya bagi aku, menulis adalah zona nyaman. Dari menulis, aku bisa merefleksikan diri, berbagi pengalaman dan bahkan menghasilkan. Ini nyaman, dan berdampak baik. Mungkin bagi kamu, itu adalah berolahraga, membaca buku atau bahkan sekedar duduk dengan tenang menikmati secangkir teh panas sambil mendengarkan musik favorit.

Kuncinya adalah mendengarkan diri sendiri. Apa yang membuat jiwa kamu tenang, pikiran jernih dan energi kita terisi kembali? Jangan ragu untuk meluangkan waktu untuk hal-hal tersebut. Ingat Self-love itu bukan egois, melainkan investasi. 

Investasi untuk kesehatan mental dan fisik kamu, yang pada akhirnya akan menbuat kamu lebih kuat, lebih bahagia dan lebih siap untuk menjalani segala peran dengan senyum di wajah.

Jadi para ibu diluar sana baik ibu pekerja, ibu rumah tangga, ibu pebisnis hebat, mari kita jadikan self-love sebagai prioritas. Karena kamu pantas mendapatkan semua kebaikan di dunia ini. Apakah ada cerita self-love versi diri kamu? 




Memberi Tanda Kasih Pernikahan yang Menyentuh Hati

Tidak ada komentar

 

Memberi Tanda Kasih Pernikahan yang Menyentuh Hati


Halo teman-teman semua. Apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Post hari ini aku mau tulis mengenai memilih kado. Saya yakin, kita semua pernah deh merasakan bingung saat harus memilih kado untuk pernikahan sahabat atau kerabat tercinta. Rasanya ingin sekali memberikan sesuatu yang spesial, yang tidak sekedar "ada", tapi juga punya makna dan bisa dikenang. 

Jujur saja, aku sendiri sering kali merasa pusing, khawatir kado yang saya beri malah berakhir jadi pajangan di gudang atau sama persis dengan kadi dari orang lain. Kado terbaik bukanlah tentang barang termahal, melainkan tentang waktu, perhatian dan ketulusan yang kita curahkan. Pengalaman pribadi ini yang akhirnya mengubah cara pandang aku dalam memberikan hadiah. 

Ide-Ide Kado Pernikahan Unik dan Tidak Terlupakan

Aku ingin berbagi beberapa ide yang mungkin bisa jadi inspirasi buat teman-teman semua dan inilah beberapa ide kado pernikahan versi aku.

1. Hadiah Berupa Pengalaman, Bukan Barang

Ini adalah ide yang palung sering aku terapkan belakangan ini. Daripada membelikan barang yang mungkin sudah banyak orang berikan, mengapa tidak memberi pengalaman? Pengalaman ini bisa jadi momen-momen indah yang bisa mereka nikmati berdua. Misalnya, kamu bisa memberikan voucher menginap di hotel atau glamping unik yang cocok. Bisa juga voucher makan malam romantis di restoran khusus. 

Nah karena aku punya travel Haji Umroh, Jadi aku suka kasih voucher DP Umroh untuk honeymoon mereka. Hadiah berupa pengalaman akan menciptakan memori baru yang tidak akan lekang oleh waktu.

2. Kado yang Datang di Saat Tidak Terduga

Ini adalah pengalaman favorit aku yang pernah aku lakukan. Aku menunggu satu minggu setelah pesta pernikahan teman. Setelah semua acara selesai, saat pasangan pengantin mulai menjalani rutinitas harian mereka yang baru, baru deh aku kirimkan mereka kado. kado yang aku kirim makanan dan kue yang mereka suka. Kado yanng dikirimkan di waktu yang tidak terduga, saat mereka paling membutuhkannya, akan terasa jauh lebih berharga.

3. Langganan Streaming Service

Biasanya kalau habis menikah itu banyak di gunakan waktunya di rumah berduaan saja kan? Mereka pasti banyak ingin meng-eksplore banyak hal baru berdua, seperti membersihkan rumah, masak dan nonton dirumah. Aku pernah kasih hadiah free voucher TV Kabel Netflix, Disney Channel dan Netflix Gratis untuk 2 bulan ke teman aku yang baru nikah, ternyata senang banget mereka. 

Intinya, dalam memberi kado pernikahan, kita tidak harus terpaku pada barang-barang umum yang ada di pasaran. Kado yang paling berkesan adalah kado yang mencerminkan ketulusan, perhatian dan pemahaman kita terhadap si penerima.

Pikirkan apa yang benar-benar akan membuat mereka senang, nyaman dan merasa dihargai. Fokus pada kualitas daripada kuantitas dan tambahkan sentuhan personal. Dengan begitu, kado yang kamu berikan ngga cuma jadi barang, tapi jadi memori indah yang akan mereka kenang. 

Mari kita bergeser dari sekedar "Memberi barang" menjadi "memberi cerita, pengalaman dan momen yang tidak terlupakan." Selamat mencoba! Aku harap, ide-ide ini bisa membantu kamu memberikan kado yang tidak hanya indah, tapi juga penuh makna. Siap berburu inspirasi kado anti-mainstream selanjutnya? Ada ide lain yang tidak kalah unik? Mari berbagi di kolom komentar!



Kita Layak Bersinar Tanpa Merasa Kecil Hati

Tidak ada komentar

 

Kita Layak Bersinar Tanpa Merasa Kecil Hati


Halo teman-teman semua! Jujur saja, siapa di antara kita yang tidak pernah merasa "kecil" ketika melihat kesuksesan, kekayaan, atau hal-hal luar biasa yang dimiliki orang lain? Saya yakin, kita semua pernah mengalaminya di tengah gemerlapnya kelebihan orang lain.

Itu wajar kok, fitrah manusia memang cenderung membandingkan. Kita boleh, bahkan sah-sah saja, mengakui kehebatan dan keunggulan yang ada pada orang lain. Mengagumi pencapaian mereka bisa menjadi inspitasi, bahkan motivasi bagi kita untuk terus berkembang. Namun, ada satu hal penting yang harus kita garis bawahi yaitu jangan pernah izinkan perasaan itu membuat kita merasa kecil atau tidak berharga ketika kita tidak memiliki kelebihan yang sama dengan mereka.

Melihat Diri dengan Kejujuran yang Menenangkan

Kunci untuk tidak terjebak dalam perangkap perbandingan ini adalah dengan melihat diri kita secara jujur. Iya dong secara jujur, tapi bukan berarti melihat kekurangan terus, malah justru fokus pada kekuatan. Aku selalu meyakinkan ke diri sendiri bahwa pasti ada hal yang tidak dimiliki orang lain, yang justru menjadi nilai besar aku. Nilai inilah yang membuat aku tetap bisa merasa sejajar dengan siapapun, di lingkungan mana pun aku berada.

Ini bukan tentang kesombongan lho. Ini tentang penerimaan diri dan kepercayaan diri yang sehat. Setiap dari kita adalah individu yang unik, dengan jejak kaki dan sidik jari kehidupan yang berbeda-beda. Jadi kenapa kita harus merasa kurang hanya karena cetakan kita tidak sama dengan cetakan orang lain?

Coba deh, sekarang kita luangkan waktu sejenak. Tarik napas dalam-dalam dan mari kita renungkan. Apa saja sih yang paling ikonik dari diri kita? Apa yang membuat kita unik? Mungkin itu adalah senyum tulus yang selalu kita berikan, kemampuan kita mendengarkan dengan sepenuh hati, semangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan atau mungkin cara kita memasak nasi goreng yang selalu berhasil bikin kangen. Apapun itu, akui!

Jejak Ikonikku dan Dampaknya

Sebagai seorang Ibu Pebisnis, aku belajar banyak dari perjalanan ini. Kalau boleh aku jujur dan sedikit berbagi, ada beberapa hal yang menurut aku paling ikonik dari diri aku dan aku bisa melihat bagaimana hal itu berdampak pada lingkungan sekitar.

  • Empati yang kuat. Aku sering kali bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, bahkan sebelum mereka mengatakannya. Ini membantu aku dalam hal membangun koneksi yang mendalam dengan tim aku, klien, jamaah dan juga anak-anak aku. Dampaknya? Hubungan yang lebih harmonis, komunikasi yang lebih efektif dan lingkungan kerja yang terasa seperti keluarga. Mereka merasa didengarkan dan dimengerti.
  • Semangat Pantang Menyerah dengan Senyuman. Tantangan dalam berbisnis dan mengurus rumah tangga itu ibarat ombak yang datang silih berganti. Ada kalanya aku ingin menyerah, tapi entah kenapa, selalu ada dorongan untuk terus maju dan biasanya aku menjalaninya dengan senyuman, bahkan saat hati lelah. Ini menular. Tim aku sering bilang, "Bu, kalau lihat Ibu saja sudah semangat lagi." Senyuman dan ketangguhan ini memberi mereka kekuatan untuk tidak mudah menyerah juga.
  • Kemampuan Menjembatani Berbagai Sudut Pandang. Dalam bisnis, seringkali ada perbedaan pendapat. Sebagai seorang ibu, aku terbiasa menjadi penengah antara anak-anak. Kemampuan ini terbawa ke dunia bisnis, dimana aku bisa membantu menyatukan ide-ide yang berbeda, menemukan titik temu dan menciptakan solusi yang bisa diterima semua pihak. Dampaknya keputusan-keputusan bisnis bisa diambil dengan lebih bijak dan minim konflik

Temukan Ikonikmu, Pancarkan Cahayamu

Mungkin kami berpikir: : "Ah itu kan Mba Cilya, aku belum tentu punya hal ikonik seperti itu." Jangan Salah! Setiap orang memilikinya. Mungkin kamu adalah orang yang selalu bisa diandalkan, pemberi saran yang bijak, atau seseorang yang selalu membawa keceriaan. Ingat, kehebatan tidak selalu tentang hal-hal besar yang kasat mata. Seringkali, justru hal-hal kecil dan "sederhana" inilah yang membentuk pribadi kita yang luar biasa.

Ketika kit amengakui dan merayakan hal-hal ikonik dalam diri kita, dampaknya akan sangat positif. Kita tidak hanya merasa lebih percaya diri dan bahagia, tetapi kita juga bisa memancarkan energi positif ini ke sekitar. Kita bisa menginspirasi orang lain, membangun hubungan yang lebih baik dan menciptkana dampak yang berarti.

Jadi mulailah hari ini. Lihatlah diri kita dengan mata yang penuh penghargaan. Fokus pada apa yang kit amiliki, bukan pada apa yang tidak kita miliki. Yakinlah, kita memiliki nilai besar yang tidak dimiliki orang lain dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kita sejajar dengan siapa pun. Apa yang paling ikonik dari diri kita dan bagaimana kita akan membiarkannya bersinar hari ini?




Menjaga Kewarasan di Tengah Badai Informasi

1 komentar

 

Menjaga Kewarasan di Tengah Badai Informasi


Sebagai seorang Ibu sekaligus memiliki bisnis, aku tahu betul bagaimana rasanya terjebak dalam pusaran informasi yang tidak ada habisnya. Sehari-hari kita disuguhi berita dari berbagai penjuru, mulai dari hiruk pikuk politik, konflik global yang memilukan, hingga bencana alam yang menguras emosi.

Di satu sisi, kita ingin tetap up-to-date dan berkontribusi, misalnya dengan berdonasi untuk korban bencana atau perang. Namun di sisi lain, paparan yang berlebihan juga negatif bisa sangat menguras mental, bahkan sampai membuat kita merasa cemas dan lelah. Kalau teman-teman begitu ngga sih? Nah ini cara aku agar aku bisa menyaring informasi tanpa harus menutup mata sepenuhnya.

Batasi Diri: Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas

Dulu, aku sering merasa FOMO (Fear of Missing Out) lho jika tidak mengikuti setiap headline berita. Akibatnya, pikiran aku selalu penuh dengan kekhawatiran yang tidak perlu. Belajar dari pengalaman, aku mulai deh sadar akan pentingnya membatasi waktu dan sumber informasi. 

Tidak perlu setiap saat membuka aplikasi media atau scroll media sosial. Jadi coba deh kita buat waktu khusus untuk membaca berita hanya 15-30 menit di pagi hari. Pilih sumber berita yang terpercaya dan netral. Hindari sumber yang sensasional atau provokatif, karena itu hanya akan menambah beban mental kita. Ingat lebih baik sedikit tapi berkualitas, daripada banyak tapi bikin kepala pusing.

Pilah Informasi: Mana yang Penting, Mana yang Bisa Dilewatkan

Ngga semua ya informasi yang ada itu jadi perhatian penuh dari kita. Ada berita yang memang penting untuk diketahui, seperti informasi tentang informasi tentang bencana alam yang membutuhkan bantuan atau kebijakan baru yang berdampak langsung pada bisnis dan keluarga. Namun, ada juga informasi yang sifatnya lebih banyak drama dan komedi publik yang sebenarnya tidak perlu terlalu kita masukkan ke hati.

Kuncinya adalah memilah dengan bijak. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah informasi ini benar-benar relevan untuk saya saat ini? Apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya?". Jika jawabannya tidak, mungkin lebih baik dilewati saja. Fokuskan energi kita pada hal-hal yang bisa kita kontrol dan pengaruhi.

Jaga Jarak Bukan Berarti Tidak Peduli

Menjaga jarak dari informasi yang mengganggu bukan berarti kita tidak peduli. Justru sebaliknya, ini adalah cara kita melindungi diri agar tetap bisa berfungsi optimal dan memberikan dampak positif. Kalau mental kita sudah terkuras habis oleh berita negatif, bagaimana kita bisa fokus pada pekerjaan, merawat keluarga atau bahkan membantu orang lain?

Aku suka melakukan yang namanya "detoks digital" sesekali. Seperti matikan notifikasi, ngga scroll media sosial selama beberapa jam dan pernah bahkan seharian. Waktu yang ada aku gunain baca buku (terutama novel biar sedikit menghibur hehehe), olahraga atau ngobrol ke cafe dan kadang nonton film di bioskop.

Kontribusi Positif: Salurkan Kepedulian

Ketika ada berita tentang penderitaan atau ketidakadilan, wajar saja sih kalau kita merasa ingin berbuat sesuatu. Daripada hanya merasa sedih dan terbebani, kita bisa menyalurkannya dalam Aksi Nyata. Ikut berdonasi, mencari orang yang bisa membantu korban (misal ada berita kehilangan dan lain-lain).

Melindungi mental dari distraksi informasi memang sebuah tantangan, apalagi di era digital seperti sekarang. Namun, dengan menerapkan batasan, memilah informasi, menjaga jarak dan menyalurkan kepedulian secara positif, kita bisa tetap waras dan produktif. Ingat ya, kesehatan mental kita ini adalah aset paling berharga, jadi jaga baik-baik ya!



Bebas dari Belenggu "Utang Budi". Menjalin Hubungan Tanpa Beban

Tidak ada komentar


Bebas dari Belenggu "Utang Budi": Menjalin Hubungan Tanpa Beban

 

Kita semua pernah mengalaminya. Saat kita berada dalam kesulitan, uluran tangan seseorang terasa seperti anugerah tidak ternilai. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa syukur yang tulus bisa berubah menjadi beban tak kasar mata, sebuah "utang budi" yang terus membayangi. 

Perasaan tidak enak, kewajiban yang tidak terucap dan kekhawatiran untuk mengecewakan bisa menggerogoti kenyamanan hubungan. Lalu, bagaimana kita bisa keluar dari jebakan emosional ini dan mengubah kebaikan menjadi sebuah jembatan, bukan belenggu?

Memahami Akar "Utang Budi"

Perasaan "utang budi" seringkali muncul dari interprestasi kita terhadap pertolongan. Mungkin kita merasa tidak enak karena merepotkan, atau khawatir kita tidak bisa membalas kebaikan yang setara. Budaya kita yang kental dengan nilai kekeluargaan dan gotong royong juga turut membentuk pola pikir ini. 

Sebenarnya pertolongan tulus seharusnya tidak disertai syarat atau harapan balasan. Namun, seringkali kita sendirilah yang menciptakan ekspektasi tersebut di benak kita.

Pertolongan yang didasari rasa tulus adalah tentang memberi tanpa pamrih. Ketika seseorang membantu kita, kemungkinan besar mereka melakukan karena peduli atau ingin meringankan beban kita, bukan untuk menagih "utang" di kemudian hari. Merekalah yang justru mungkin merasa senangbisa membantu. Jadi, langkah pertama adalah mengubah dulu perspektif melihat pertolongan sebagai ekspresi kebaikan dan solidaritas, bukan transaksi.

Mengelola Perasaan Tidak Nyaman

Bagaimana caranya agar pertolongan itu tidak terasa sebagai utang budi? Pertama, ekspresikan rasa syukur dengan tulus. Ucapkan terima kasih, berikan senyuman atau bisa juga kita tunjukkan apresiasi kepada mereka. 

Ini adalah bentuk kecil dari pengakuan kita kalau kita menghargai mereka yang sudah mau membantu, tanpa perlu merasa harus membalas setimpal. Rasa gratitude yang tulus akan membebaskan kita dari beban, karena fokusnya ada pada kebaikan yang diterima, bukan kewajiban yang harus dipenuhi.

Kedua, jangan ragu untuk menawarkan bantuan saat kita melihat kesempatan. Ini bukan tentang "membayar utang", melainkan tentang menunjukkan bahwa kita tuh juga memiliki jiwa tolong menolong. Hubungan yangsehat adalah hubungan yang seimbang, di mana kedua belah pihak saling mendukung dan memberi, bukan hanya satu pihak yang selalu menerima.

Ingat ya....Ini bukan perlombaan untuk membalas budi, melainkan bentuk dari sebuah persahabatan yang tulus.

Membangun Hubungan yang Sehat dan Nyaman

Lalu, apa yang bisa kita lakukan agar kondisi ini bisa nyaman untuk kedua belah pihak? Komunikasi adalah kunci utama. Jika kita merasa khawatir atau tidak nyaman dengan situasi "utang budi" ii, cobalah bicarakan secara terbuka dengan orang tersebut. Ungkapkan rasa terima kasih kita dan sampaikan bahwa kita tidak ingin merasa terbebani.

Penting juga untuk menetapkan batasan diri yang sehat. Jika kita merasa seseorang terus-menerus memberikan "pertolongan" yang justru membuat kita tidak nyaman, kita berhak untuk menolak atau mencari alternatif lain. 

Ini bukan berarti kita tidak mau dibantu dan tidak menghargai mereka ya, melainkan kita sedang menjaga kesehatan mental dan emosional kita sendiri. Belajar untuk menjadi mandiri juga merupakan cara untuk mengurangi ketergantungan dan potensi "utang budi" di masa depan.

Pada akhirnya, kebaikan sejati adalah tentang memberi dan menerima dengan hati lapang. Bebaskan diri dari belenggu "utang budi" yang tidak perlu. Nikmati kehangatan persahabatan dan rasakan ketenangan dalam setiap uluran tangan yang akan kita terima, karena pertolongan itu datang dari hati yang tulus, bukan untuk menagih janji. 

Mari kita bangun hubungan yang didasari oleh rasa saling menghargai, bukan beban yang tidak terucapkan.